Rechta Institute: Muktamar NU Bebas Politik Uang dan Balas Budi

Jakarta, Maret.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan berjalan dengan prinsip kebersihan, independensi, dan integritas yang kuat.
Pandangan ini disampaikan oleh Peneliti Rechta Institute, Muhtar Said. Ia mengemukakan hal tersebut seiring dengan dibukanya Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Muhtar Said menekankan pentingnya menjaga marwah Muktamar agar terhindar dari pengaruh politik pragmatis dan politik uang. “Saya yakini bahwa para utusan daerah dan cabang (muktamirin) yang memiliki hak suara tidak akan mudah terpengaruh oleh iming-iming materi atau kepentingan jangka pendek,” tegas Muhtar Said.
Ia percaya bahwa peserta Muktamar tidak akan tergoda untuk ‘dibeli’, karena bagi orang NU, ber-NU adalah panggilan hati dan bukan berdasarkan transaksi. Atas dasar ini, Muhtar Said mengimbau seluruh elemen NU untuk membendung segala bentuk upaya transaksi politik uang.
“Muktamar harus lahir dari kedaulatan muktamirin, keberanian bersikap, dan kemandirian organisasi,” jelasnya.
Menurutnya, transparansi dalam Muktamar sangat penting. Hal tersebut diharapkan dapat menghasilkan jajaran pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah yang bersih dan tanpa beban transaksi. Ini akan menjadi modal utama bagi NU untuk mengarungi abad keduanya.





