Pemberian KTA NU kepada Prabowo Picu Beragam Tafsir Politikal

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Tindakan ini dinilai sebagai gestur politik yang dapat diuraikan dengan beragam interpretasi.
Pengamat politik AS Hikam menilai pemberian KTA NU kepada Prabowo merupakan hal yang unik dalam sejarah kepresidenan di Indonesia. “Selain Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Prabowo menjadi presiden yang secara resmi mengakui sekaligus menerima KTA NU,” ujar AS Hikam.
Ia menyebutkan, pemberian KTA ini bisa dilihat sebagai gestur politik untuk mendekatkan hubungan pemerintah dengan NU. Namun, ada aspek menarik dari proses tersebut, di mana Prabowo menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota NU sendiri.
Hikam mengingatkan pernyataan Prabowo saat pembukaan Muktamar ke-35 NU ketika ia menyatakan akan kembali datang setelah mendapatkan KTA NU. “Kalau dilihat lagi kan yang minta Prabowo untuk jadi anggota,” kata Hikam.
Ia juga menambahkan bahwa Prabowo tampak terkejut dan senang saat keinginannya tersebut terwujud. Pidato Prabowo pada pembukaan Muktamar menunjukkan adanya hasrat kuat untuk mendapatkan KTA NU. “Kalau sudah kayak gitu kan bisa ditafsirkan sebagai perintah,” tuturnya.
Dengan mempertimbangkan rangkaian peristiwa tersebut, Hikam berpendapat bahwa penerimaan KTA NU oleh Prabowo dapat dimaknai sebagai bentuk kebanggaan politik. Ia membuka kemungkinan bahwa fenomena serupa dapat terjadi jika organisasi lain juga memberikan KTA kepada Presiden.
“Mungkin juga kebanggaan kalau sampai presiden nanti rame-rame organisasi lain juga akan memberikan KTA-nya masing-masing,” pungkasnya.





