Untari Perluas Pelestarian Aksara Jawa ke Sekolah Jatim

Jakarta, Maret.id — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, mendorong perluasan penerapan model pembelajaran dan pelestarian aksara Jawa di seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur. Malang dianggap sebagai contoh sukses untuk mempertahankan aksara Jawa yang relevan dengan teknologi dan ekosistem kreatif anak muda.
“Berbagai upaya ini akan saya perkuat dan perluas lagi ke seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur,” kata Untari saat sosialisasi bertajuk ‘Menjaga Warisan, Merawat Identitas: Penguatan Bahasa dan Aksara Jawa Bagi Anak Muda di Kabupaten Malang,’ Sabtu (5/9/2026).
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh seluruh kepala SMA negeri dan swasta di Kabupaten Malang. Dalam acara ini, Untari menyampaikan strategi yang telah berjalan di Malang dan mendorong penerapan model yang sama di daerah lain.
Politisi senior dari PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa pelestarian aksara Jawa tidak hanya sebatas menyimpan warisan budaya. Ia ingin aksara tersebut menjadi bagian dari kehidupan generasi muda dengan pendekatan yang sesuai dengan kemajuan zaman.
“Setelah saya renungkan sejak lama, saya bertekad agar aksara Jawa ini tak boleh lagi berhenti sebagai relikui kuno di museum,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya metode pengajaran yang adaptif dengan zaman.
Upaya tersebut memiliki landasan regulasi dalam Peraturan Daerah (Perda) Jatim Nomor 6 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan. Namun, Untari menilai regulasi ini harus diterjemahkan ke dalam langkah teknis yang dapat diimplementasikan di tingkat birokrasi dan sekolah.
“Bahasa, naskah kuno dan tradisi lisan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) tidak hanya terlindungi, tetapi juga berkembang secara relevan,” tegasnya.
Ia menganggap bahwa perubahan dalam metode pembelajaran adalah kunci agar aksara Jawa lebih mudah diterima oleh generasi muda. Menurutnya, masih ada stigma negatif di kalangan pelajar bahwa aksara Jawa itu rumit dan kuno.
“Ini jadi tugas besar kita semuanya, termasuk para guru-guru,” ujarnya.
Model pembelajaran kontekstual telah mulai diterapkan di beberapa sekolah dasar di Malang, dengan hasil ketuntasan belajar yang signifikan. Di SDN Tlogomas 2 Malang, misalnya, angka ketuntasan belajar meningkat dari 42 persen menjadi 89,28 persen.
Capaian serupa juga terlihat di SDN 2 Karangsari dan SDN Bolosingo melalui penggunaan media visual dan permainan edukatif. Untari menekankan bahwa pengajaran aksara Jawa tidak harus dilakukan dengan pendekatan konvensional.
Pelestarian aksara Jawa juga melibatkan kegiatan di luar ruang kelas. Siswa mulai belajar mengetik aksara Jawa melalui gawai dan mendesain produk UMKM lokal dengan aksara tersebut.
“Langkah itu juga diperkuat lewat kompetisi pop-kultur,” tuturnya.
Pendekatan yang inovatif ini penting untuk mengubah cara pandang generasi muda mengenai aksara Jawa. Aksara tidak hanya menjadi materi pelajaran, tetapi juga bagian dari kreativitas dan produk ekonomi kreatif.
Ia menyebut, upaya ini mulai menerima apresiasi lebih luas, dengan aksara Jawa yang terdaftar dalam Unicode. Bahkan, karya desain siswa telah didorong untuk diinkubasi oleh industri clothing line lokal.
Untari telah merumuskan empat rekomendasi strategis untuk memperluas pelestarian aksara Jawa di seluruh Jawa Timur. Pertama, mereplikasi model pengajaran dan intervensi berbasis riset dari Malang ke seluruh kabupaten/kota.
Kedua, mendorong standardisasi teknologi berbasis SNI 9047:2021 bagi guru bahasa Jawa. Ketiga, menjadikan proyek aksara Jawa sebagai bagian wajib dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Keempat, memanfaatkan publikasi riset dari Malang sebagai dukungan untuk pengajuan domain Internationalized Domain Name (IDN) aksara Jawa ke ICANN.
“Bagi saya, perluasan ini penting agar kebijakan pelestarian budaya tidak berhenti di level regulasi,” imbuhnya.
Aksara Jawa harus tetap relevan di tengah perubahan zaman, digunakan oleh generasi muda, serta memiliki tempat di pendidikan dan ekonomi kreatif. “Berbagai upaya ini akan saya perkuat dan perluas lagi ke seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur,” harap Untari.





