Pemimpin Barat Harus Belajar dari Prabowo tentang BUMN

Jakarta, Maret.id — Keberanian Presiden Prabowo Subianto dalam merestrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Danantara Indonesia mendapat perhatian luas.
Rovshan Ibrahimov, Profesor Departemen Hubungan Internasional di Webster University, menyatakan bahwa langkah ini dapat menjadi contoh bagi pemimpin politik di negara-negara Barat.
“Untuk mencabut struktur yang telah berakar kuat, diperlukan tangan yang cukup tegas,” ujar Ibrahimov. Ia menambahkan bahwa restrukturisasi BUMN yang telah ada selama puluhan tahun memerlukan keberanian untuk menghadapi berbagai kepentingan yang terjalin dalam organisasi tersebut.
Dalam analisisnya yang dipublikasikan di The Telegraph, Ibrahimov menjelaskan skala struktur BUMN di bawah Danantara. Awalnya, Prabowo memperkirakan ada sekitar 300 hingga 400 entitas, tetapi pemetaan terbaru menunjukkan jumlahnya mencapai 1.074 entitas.
Struktur yang kompleks ini, menurut Ibrahimov, berpotensi memperlemah akuntabilitas dan menciptakan tumpang tindih fungsi serta meningkatkan risiko pemborosan. Hingga Agustus 2026, Danantara telah berhasil menghapus 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi.
Target Prabowo adalah merestrukturisasi 300 entitas sampai akhir tahun ini. Ibrahimov juga mencermati bahwa mandat Danantara lebih luas dibandingkan dengan model sovereign wealth fund konvensional.
“Dana ini diarahkan untuk menggunakan dividen dan aset BUMN guna mendukung prioritas pembangunan nasional,” imbuhnya. Ia menekankan pentingnya peningkatan pengolahan bahan mentah di dalam negeri sebagai salah satu fokus utama.
“Dan mungkin di sinilah letak inti Prabowonomics: Presiden meyakini bahwa kekayaan nasional Indonesia harus digunakan secara lebih terarah demi kemakmuran rakyatnya,” kata Ibrahimov.
Ia mengaitkan pendekatan ini dengan pengalaman negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang menggunakan peran negara untuk mengorganisasikan modal serta kebijakan dalam pembangunan industri.
Ibrahimov berpendapat bahwa mandat Danantara yang luas tidak bisa dipandang sebagai penyimpangan dari fungsi sovereign wealth fund. “Keberhasilan tidak mungkin diraih tanpa risiko ataupun pilihan-pilihan yang sulit,” tuturnya.
Menurutnya, Danantara merupakan instrumen penting untuk menggerakkan aset negara demi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. “Danantara merupakan upaya Prabowo untuk menggerakkan neraca keuangan negara bagi kepentingan mereka yang pada hakikatnya merupakan pemiliknya: rakyat Indonesia,” pungkas Ibrahimov.





