Politik

Willy Aditya: Perjuangkan Hak Retaker, Kesehatan Republik

Jakarta, Maret.id — Sejarah Republik Indonesia tak terlepas dari peran dokter. Dalam diskusi publik bertajuk “Menata Kesempatan yang Adil bagi Retaker Dokter: Tantangan dan Solusi ke Depan,” Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya menekankan pentingnya kontribusi dokter dalam pembentukan negara.

“Republik ini lahir dari tangan dokter. Bukan kita saja yang lahir dari tangan bidan dan dokter,” kata Willy, pada Sabtu 19 September 2026. Pernyataan ini merujuk pada peran penting dokter dalam sejarah bangsa.

Willy juga menjelaskan bahwa pandangannya mendorong keterlibatannya dalam pembahasan revisi Undang-Undang Pendidikan Kedokteran ketika menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR periode 2019-2024. Ia berpendapat bahwa pendidikan kedokteran merupakan perjumpaan dua hal mendasar dalam kehidupan masyarakat.

“Karena pendidikan kedokteran itu perjumpaan dari dua hal yang paling elementer dalam hidup kita. Satu itu pendidikan, yang kedua itu kedokteran,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti masalah yang dihadapi para retaker dokter, termasuk mereka yang belum lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Saat ini, terdapat 1.023 retaker dokter yang belum lulus, dan Willy mengindikasikan bahwa isu ini lebih dari sekadar kelulusan. “Persoalan ini juga menyangkut sistem pendidikan kedokteran secara keseluruhan,” tegasnya.

Willy menilai bahwa sistem pendidikan kedokteran di Indonesia masih terjebak pada masalah feodalisme dan liberalisme. “Feodalisme yang paling akut ada di mana? Fakultas kedokteran. Liberalisme yang paling akut ada di mana? Fakultas kedokteran,” ungkapnya.

Ia juga menekankan perlunya mengembalikan nilai humanisme dalam pendidikan kedokteran. Mengacu pada arti penting kemanusiaan, Willy menyatakan bahwa dokter harus lebih dari sekadar profesional yang kompeten.

“Kita bersama-sama mengembalikan sumpah kedokteran. Apa sumpahnya? Mereka bersumpah atas nama kemanusiaan,” katanya. Ia berpesan kepada calon dokter agar tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi.

“Ketika nanti Anda lulus UKMPPD, jadilah dokter yang humanis. Jadilah dokter yang membela rakyat. Jadilah dokter yang berpraktik untuk rakyat,” imbuh Willy. Diskusi publik ini juga dihadiri oleh Ketua Pergerakan Dokter Muda Indonesia (PDMI) Mikawirdani, Dokter RS Sadewa Dinda Rizki, dan Satria Aji Imawan dari Undip.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button