Politik

DPRD Jember Beri Sinyal Koalisi Edukasi Sampah

Jakarta, Maret.id — Anggota DPRD Jember, Tabroni, mendorong Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengambil langkah nyata dalam mengatasi masalah sampah yang semakin parah. Ia menekankan pentingnya edukasi pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga sebagai langkah awal untuk menyelesaikan krisis ini.

Pentingnya Edukasi Sampah di Tingkat Rumah Tangga

Tabroni menuturkan, masalah sampah yang terus berlanjut tidak akan teratasi hanya dengan mengandalkan pemerintah. Menurutnya, dibutuhkan gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat untuk memberikan edukasi yang komprehensif mengenai pengelolaan sampah. Pendapat ini disampaikan setelah ia melakukan studi banding ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Banyumas, Jawa Tengah.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mencari solusi konkret bagi permasalahan sampah yang tidak kunjung usai di Jember. Tabroni menyebutkan bahwa TPST BLE menjadi salah satu contoh terbaik di tingkat nasional dalam hal pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat.

Model Pengelolaan Sampah yang Berhasil di Banyumas

Politisi dari PDI Perjuangan ini menjelaskan, sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang diterapkan di Banyumas sejak tahun 2017 melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Edukasi tentang pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi kunci keberhasilan sistem ini.

Setelah proses pemilahan, sampah dikelola oleh KSM di tingkat desa dengan menggunakan alat pengolahan mandiri. Hal ini mengakibatkan hanya sedikit residu yang harus dibawa ke TPST BLE, yang kemudian dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri atau produk lainnya, seperti paving.

Kondisi Krisis Sampah di Jember

Sayangnya, kondisi di Banyumas sangat berbeda dengan yang ada di Jember. Saat ini, volume sampah di Jember mencapai 1.000 hingga 1.300 ton per hari, sedangkan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di daerah tersebut hanya berkisar 300 hingga 400 ton per hari.

Dengan adanya ketimpangan ini, sebagian besar sampah di Jember masih ditangani dengan metode lama yang tidak efektif. Tabroni menjelaskan bahwa kondisi TPA di Jember saat ini hanya menumpuk sampah dengan metode open dumping, yang tidak memberikan pengelolaan yang optimal.

Tabroni mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah ini. Ia mendesak pembentukan KSM dan bank sampah di tingkat desa dan kecamatan agar limbah yang masuk ke TPA hanya berupa residu.

Meskipun membangun sistem ini tidak bisa dilakukan secara instan, Tabroni optimistis bahwa volume sampah di Jember dapat berkurang secara bertahap jika didukung oleh komitmen dari masyarakat dan investasi dalam alat pengolahan. Ia menekankan, “Jika dilakukan dengan langkah yang tepat, sampah tidak hanya dapat menjadi masalah lingkungan, tetapi juga bisa memberdayakan ekonomi masyarakat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button