Manuver DPC PDI

Jakarta, Maret.id — Pekik merdeka dan semangat nasionalisme memuncak di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kabupaten Gresik pada Sabtu (23/5/2026). Dalam momen bersejarah ini, sebanyak 198 kader Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-kabupaten resmi dilantik.
Pelantikan yang Bermakna
Pemilihan GNI sebagai lokasi pelantikan bukanlah tanpa alasan. Jajaran pengurus PDI Perjuangan ingin mengaitkan semangat gotong royong masa lalu dengan dinamika politik modern. Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Gresik, Fandi Akhmad Yani, menekankan bahwa gedung ini merupakan simbol kekuatan swadaya dan kolektivitas rakyat.
“Gedung Nasional Indonesia adalah tempat bersejarah yang dibangun dari swadaya masyarakat. Di sini terdapat banyak jejak perjuangan dan semangat gotong royong,” ujar Gus Yani, sapaan akrabnya. Menurutnya, sejarah pembangunan GNI yang lahir dari partisipasi aktif masyarakat harus menjadi cermin bagi para pengurus PAC yang baru dilantik.
Kepedulian Sosial dan Kader yang Responsif
Gus Yani juga menambahkan bahwa pelantikan ini diselenggarakan bukan hanya sebagai ritual organisasi semata. Momen ini dimaksudkan untuk mengetuk kembali kepedulian sosial para kader. “Kami memilih GNI sebagai lokasi pelantikan agar semangat perjuangan ini dapat menular kepada seluruh kader yang dilantik. Kader PDI Perjuangan harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan memperjuangkan nasib wong cilik,” tegasnya.
Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh ratusan kader yang mengenakan seragam merah khas partai. Suasana patriotik semakin kental saat lagu Mars dan Hymne PDI Perjuangan menggema di dalam gedung bersejarah itu. Selain pelantikan, acara juga dimeriahkan dengan pagelaran kesenian yang menambah rasa kebersamaan di antara para kader.
Sejarah GNI dan Semangat Kebersamaan
GNI memiliki sejarah panjang yang dimulai pada 17 Agustus 1960, di mana pembangunan gedung ini melibatkan partisipasi ekonomi dari berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada suntikan dana dari pemerintah; sebaliknya, gedung ini lahir dari patungan masyarakat, di mana para pemilik toko bahan bangunan menyumbangkan material bangunan seperti semen, pasir, dan batu kapur.
Donasi yang diterima tidak hanya datang dari pengusaha, tetapi juga dari seniman yang menyelenggarakan pentas seni dengan hasil yang sepenuhnya disumbangkan untuk pembangunan gedung. Para buruh juga turut berkontribusi dengan cara bekerja bakti setiap akhir pekan untuk pengerjaannya. Sebelumnya, gedung ini mengawali perannya sebagai rumah panggung yang berfungsi sebagai sekolah rakyat.
GNI akhirnya menjelma menjadi simbol kesetaraan dan egalitarianisme era tersebut. Berbagai kalangan memanfaatkan gedung ini untuk aktivitas mulai dari pergerakan buruh, rapat-rapat partai politik, pagelaran seni, sampai resepsi pernikahan masyarakat.
Dengan pelantikan ini, PDI Perjuangan Gresik selangkah lebih maju dalam mengingatkan kita akan esensi politik yang sesungguhnya: gotong royong dan pengabdian kepada masyarakat, mirip dengan filosofi di balik pembangunan awal gedung ini. Pesan ini diharapkan mampu menginspirasi dan membangkitkan semangat kader PDI Perjuangan untuk terus mengabdi dan melayani rakyat.





