Gubernur Lemhannas Desak Evaluasi Kritis Terhadap Keberadaan BoP!

Jakarta, Maret.id — Ketua Lemhannas sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, TB Ace Hasan Syadzily, menekankan pentingnya evaluasi terhadap efektivitas dan posisi Balance of Power (BoP) seiring dengan perkembangan geopolitik global yang semakin kompleks.
Evaluasi Kritis terhadap Situasi Geopolitik
TB Ace mengungkapkan bahwa situasi di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah menciptakan ketidakpastian yang lebih dalam. “Keberadaan BoP sendiri saya kira perlu dikaji lebih lanjut disebabkan karena situasi geopolitik yang membuat keadaan semakin tidak menentu,” jelasnya dalam sebuah wawancara dengan wartawan di Jakarta pada Minggu, 24 Mei 2026.
Meskipun dihadapkan pada dinamika global yang sulit, TB Ace menegaskan bahwa posisi Indonesia tetap konsisten dalam mendukung perjuangan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Ia juga menolak semua tindakan yang bertentangan dengan hukum humaniter internasional.
Pulangan Relawan dan Tindakan Penahanan
Pernyataan tersebut muncul sebagai respon atas kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) relawan dari misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Relawan tersebut sebelumnya ditahan oleh Israel sebelum akhirnya tiba kembali di Indonesia pada tanggal yang sama.
TB Ace menyayangkan tindakan penyekapan terhadap jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang terjadi di wilayah konflik. Ia mencatat bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan melanggar prinsip-prinsip hukum humaniter internasional. “Tindakan itu tidak boleh dilakukan karena menyalahi prinsip-prinsip hukum humaniter internasional,” tegasnya.
Peran Diplomasi Indonesia
TB Ace juga memberikan apresiasi atas langkah diplomatik yang diambil pemerintah Indonesia, terutama dalam usaha memulangkan para WNI. Ia mencatat peran penting Kedutaan Besar RI di Turki dalam proses ini.
Namun, dia juga memperingatkan bahwa di tengah situasi kawasan yang semakin memanas, pemerintah perlu dengan hati-hati mempertimbangkan berbagai langkah dan instrumen diplomasi yang ada. Ia menekankan bahwa efektivitas BoP harus dievaluasi kembali, terutama dalam konteks perubahan peta konflik global yang terjadi saat ini.





