Ekonomi

Prabowo Tegaskan Target Rupiah Rp16.800

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto menargetkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI.

Target Nilai Tukar dan Inflasi

“Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500,” kata Prabowo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan ini disertai komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dengan target inflasi antara 1,5 sampai 3,5 persen, yang menjadi tolok ukur kebijakan moneter dan ekspektasi pasar.

Koordinasi Fiskal dan Moneter

Prabowo menegaskan bahwa strategi fiskal dan moneter harus mampu menjaga nilai tukar tetap stabil terhadap mata uang dunia dengan pendekatan yang terkoordinasi.
Pendekatan tersebut menuntut sinergi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter untuk merespons tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar dan dinamika arus modal.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen di tahun 2027 sebagai langkah awal menuju target jangka menengah.
” Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen di tahun 2027 menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029,” tegasnya.

Fiskal Prudent dan Berkelanjutan

Dalam pidatonya, Presiden menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan untuk menunjang pertumbuhan yang inklusif.
Implementasi kebijakan tersebut dipandang penting agar peningkatan pertumbuhan dapat tercermin pada peningkatan kesejahteraan rakyat secara nyata tanpa mengorbankan stabilitas makro.

Implikasi bagi Pasar dan Kebijakan

Rentang nilai tukar yang ditargetkan memberi sinyal kepada pelaku pasar tentang tolok ukur kebijakan valuta asing dan manajemen risiko makroekonomi pemerintah.
Sinyal tersebut juga menuntut kesiapan otoritas untuk menggunakan instrumen kebijakan, termasuk intervensi pasar uang, operasi valas, atau kebijakan suku bunga jika diperlukan.

Risiko dan Tantangan Eksternal

Pemerintah harus mempertimbangkan risiko eksternal seperti volatilitas dolar AS, kondisi perdagangan global, dan aliran modal yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran.
Dalam konteks itu, konsolidasi kebijakan fiskal dan peningkatan cadangan devisa menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko yang perlu dijalankan secara konsisten.

Peran Sektor Riil dan Investasi

Untuk merealisasikan target pertumbuhan jangka menengah, perlu akselerasi investasi publik dan swasta yang produktif serta peningkatan daya saing sektor riil.
Penguatan infrastruktur, pemasukan fiskal yang berkelanjutan, dan reformasi struktural dipandang sebagai pilar penting dalam mendukung target pertumbuhan yang disebutkan pemerintah.

Pernyataan dan target yang disampaikan di sidang paripurna tersebut akan menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan anggaran dan langkah-langkah operasional kedua otoritas ekonomi.
Pemantauan pasar dan komunikasi kebijakan yang jelas akan menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas target-target makroekonomi yang telah dipaparkan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button