BPS: Kunjungan Wisman Melesat 4,68 Juta hingga April 2026, Tertinggi sejak 2020!

Jakarta, Maret.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Angka ini meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan merupakan capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Tren Kunjungan Wisatawan
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menyatakan tren tersebut menunjukkan sektor pariwisata Indonesia terus mengalami pemulihan dan pertumbuhan. “Capaian kunjungan wisman Januari hingga April 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak 2020,” kata Pudji yang dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (3/6/2026).
Pintu Masuk Utama dan Mobilitas Udara
BPS mencatat mayoritas wisatawan mancanegara memasuki Indonesia melalui jalur udara dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali menjadi pintu masuk utama. Bandara tersebut mencatat jumlah kunjungan mencapai 2 juta wisman selama empat bulan pertama tahun ini, menegaskan posisi Bali sebagai magnet pariwisata internasional.
Kinerja Hunian Hotel Nasional
Selain volume kunjungan wisman, BPS melaporkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel secara nasional mengalami kenaikan pada April 2026. TPK hotel nasional tercatat 37,08 persen, naik 3,80 persen poin dibandingkan Maret 2026, dan naik 0,33 persen poin dibandingkan April 2025.
TPK untuk hotel berbintang pada April 2026 mencapai 48,83 persen, menunjukkan permintaan tersegmentasi pada akomodasi berskala besar. Secara kumulatif Januari-April 2026, TPK hotel berbintang mencapai 46,01 persen atau naik 2,07 persen poin dibanding periode yang sama tahun 2025.
Distribusi Regional Hunian
Bali tercatat sebagai provinsi dengan tingkat hunian hotel berbintang tertinggi yakni 57,94 persen, disusul DKI Jakarta 54,80 persen dan Kalimantan Barat 53,76 persen. Data ini menegaskan perbedaan performa antarwilayah yang dipengaruhi oleh atraksi wisata, konektivitas udara, dan acara regional.
Untuk hotel nonbintang dan akomodasi lain, TPK pada April 2026 tercatat 24,96 persen, mencerminkan segmentasi pasar yang masih lebih rendah dibanding hotel berbintang. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan tingkat hunian tertinggi untuk kategori nonbintang dan akomodasi lain yaitu 38,09 persen, diikuti Kepulauan Riau 35,11 persen dan Bali 34,81 persen.
Implikasi Ekonomi dan Sektor Pariwisata
Peningkatan kunjungan wisman dan tingkat hunian hotel memberi sinyal positif bagi penerimaan devisa, pendapatan pelaku usaha pariwisata, dan penyerapan tenaga kerja terkait layanan. Namun, perbedaan tingkat hunian antar kategori akomodasi menunjukkan kebutuhan untuk kebijakan yang mendorong distribusi manfaat ekonomi lebih merata ke segmen usaha kecil dan menengah pariwisata.
Pemulihan kunjungan yang mencapai level tertinggi sejak 2020 juga menimbulkan tantangan kapasitas dan kualitas pelayanan di destinasi utama sehingga memerlukan koordinasi antara pemerintah daerah, operator bandara, dan pelaku industri perhotelan. Peningkatan okupansi yang berkelanjutan akan penting bagi stabilitas rantai pasok wisata serta perencanaan investasi infrastruktur di kawasan-kawasan prioritas.
BPS terus memantau perkembangan indikator pariwisata dan hunian secara berkala untuk memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai dinamika permintaan dan kinerja sektor. Data bulan berikutnya diharapkan dapat mempertegas tren pemulihan dan membantu perumusan strategi pemasaran serta pengembangan produk pariwisata nasional.





