Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing seiring pelemahan rupiah yang semakin dalam, di mana saat ini 1 Dolar AS bernilai sekitar 18 ribu rupiah. Pernyataan ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai penegasan komitmen otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Langkah Intervensi dan Instrumen yang Digunakan

Destry menjelaskan bahwa BI melakukan intervensi secara berkesinambungan melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk memperkuat efektivitas intervensi.

BI juga sedang memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market agar aliran modal masuk ke instrumen aset domestik tetap terjaga. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjaga daya tarik investasi domestik dan mengurangi tekanan pelepasan modal dari pasar domestik.

Koordinasi dengan Korporasi dan Pelaku Pasar

Menurut Destry, koordinasi dan komunikasi intensif dengan korporasi serta pelaku pasar lain terus dijalankan untuk memastikan efektivitas kebijakan. Upaya ini mencakup dialog reguler dan pemantauan kebutuhan likuiditas valuta asing di sektor korporasi.

BI mengindikasikan bahwa intervensi tidak hanya bersifat transaksional melainkan juga mencakup langkah-langkah komunikasi untuk meredam volatilitas pasar. Strategi komunikasi tersebut penting agar keputusan investor tercermin secara rasional dalam pembentukan harga di pasar valas.

Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah

Destry menilai bahwa lemahnya nilai tukar rupiah terutama dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran yang masih berlangsung. Kondisi ini berkontribusi pada tingginya ketidakpastian global dan mengangkat risiko geopolitik yang mempengaruhi arus modal ke negara-negara emerging.

Ketegangan di wilayah Selat Hormuz juga turut mendorong harga minyak tetap pada level tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Dampak kenaikan harga minyak ini turut menekan neraca eksternal beberapa negara, termasuk kebutuhan devisa untuk pembiayaan impor energi.

Kebutuhan Valas dan Aliran Modal

Di sisi domestik, kebutuhan valuta asing masih cukup besar sejalan dengan pola repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri (ULN) yang harus dipenuhi oleh korporasi. Tekanan kebutuhan valas ini memperkuat volatilitas rupiah di tengah dinamika pasar global.

Destry menyampaikan bahwa pelemahan rupiah secara umum sejalan dengan tren regional, dengan posisi pelemahan year to date (ytd) sebesar -7,44 persen. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak sepenuhnya didorong faktor domestik melainkan juga oleh kondisi eksternal yang serupa di negara-negara sejenis.

Cadangan Devisa dan Ketahanan Makro

Meski berada dalam tekanan, BI memastikan bahwa cadangan devisa negara tetap terjaga pada level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026. Level cadangan tersebut dinilai cukup untuk menopang stabilitas eksternal dan memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka pendek.

BI menegaskan bahwa kombinasi intervensi pasar, kebijakan suku bunga instrumen moneter, serta pembelian SBN di pasar sekunder merupakan upaya terintegrasi untuk meredam volatilitas dan memitigasi risiko terhadap stabilitas makroekonomi. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar sembari memberi ruang bagi penyesuaian kurs yang lebih stabil.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button