Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Menekan Industri Galangan Kapal Nasional

Jakarta, Maret.id — Industri galangan kapal nasional saat ini menghadapi tantangan berat akibat lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami.
Dampak Lonjakan Mata Uang Terhadap Industri
Menurut Anita, kondisi sektor maritim semakin diperparah oleh melambungnya harga energi dan bahan baku produksi secara global. Ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah memberikan tekanan tambahan bagi industri galangan kapal. “Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri,” jelasnya.
Anita menambahkan bahwa ketergantungan ini membuat industri lokal sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Data internal Iperindo menunjukkan bahwa harga Solar B40 telah melonjak sebesar 89,19 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. “Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, kami berharap bisa mendapatkan BBM subsidi dari Pemerintah,” ungkapnya.
Kenaikan Biaya Produksi
Selain energi, harga bahan pokok seperti plat baja juga mengalami kenaikan yang signifikan, berkisar antara 7 hingga 12,60 persen. Kenaikan ini turut mempengaruhi kemampuan pelaku usaha dalam menyelesaikan proyek dengan biaya yang semakin membengkak. Banyak pelaku usaha terjebak dalam kontrak lama yang ditandatangani saat nilai tukar dolar masih rendah.
Akibatnya, pembengkakan biaya tidak terhindarkan ketika mereka harus melakukan pelunasan material dengan kurs yang tinggi. Dalam merespons situasi ini, sejumlah galangan kapal terpaksa menaikkan tarif reparasi armada hingga mencapai 20 persen. Hal ini juga berdampak pada proyek pembangunan kapal baru, di mana para pengusaha harus menegosiasikan kenaikan biaya dengan pemilik kapal.
Permintaan Dukungan dari Pemerintah
Dengan kondisi yang semakin sulit, Iperindo berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk memberikan dukungan nyata kepada sektor maritim nasional. Langkah ini dianggap sangat penting untuk menjaga daya saing industri galangan kapal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Anita menegaskan pentingnya ketersediaan BBM subsidi untuk industri sebagai salah satu solusi mengatasi lonjakan biaya. “Kami membutuhkan dukungan dari pemerintah agar dapat bertahan dan bersaing di pasar global,” pungkasnya. Mengingat situasi yang terus berkembang, langkah-langkah cepat dari pemerintah dipandang sangat penting untuk memastikan keberlanjutan industri galangan kapal di Indonesia.





