Menko AHY dan Menteri Transportasi Federasi Rusia Bahas Kerja Sama Dorong Investasi!

Jakarta, Maret.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan pertemuan dengan Menteri Transportasi Federasi Rusia Andrey Nikitin di Moskow pada Senin (1/6/2026) untuk membahas peluang kerja sama strategis di bidang transportasi. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia dalam rangka meningkatkan konektivitas yang modern, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Ruang lingkup pembahasan
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mengeksplorasi beberapa segmen kerja sama yang meliputi perkeretaapian, transportasi laut dan pelabuhan, keselamatan transportasi, serta pemanfaatan teknologi untuk efisiensi operasional. Fokus diskusi juga mencakup eksplorasi inovasi teknologi yang dapat mempercepat transisi menuju sistem transportasi rendah karbon.
Transportasi sebagai urat nadi nasional
AHY menegaskan bahwa bagi Indonesia, transportasi bukan sekadar sarana mobilitas melainkan unsur penting yang menghubungkan masyarakat dan mendukung pemerataan ekonomi. “Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.380 pulau dan populasi sekitar 280 juta jiwa. Bagi kami, transportasi adalah urat nadi yang mempersatukan bangsa dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara,” ujarnya.
Target biaya logistik dan kebijakan iklim
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (8/6/2026), AHY menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto Indonesia menargetkan penurunan biaya logistik nasional hingga mencapai 12,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029. Target tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi ekonomi sekaligus memperkuat daya saing nasional di tengah tantangan global.
Indonesia juga terus mendorong transformasi sektor transportasi yang selaras dengan target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat, dengan penekanan pada pengembangan teknologi rendah karbon dan bahan bakar alternatif. “Pengalaman dan keunggulan Rusia dalam pengembangan teknologi propulsi alternatif serta bahan bakar rendah karbon, termasuk LNG dan amonia, dapat menjadi nilai tambah yang penting bagi upaya transisi energi dan dekarbonisasi sektor transportasi Indonesia,” lanjut AHY.
Peluang di sektor perkeretaapian
AHY mengungkapkan bahwa pengembangan jaringan kereta api masih menjadi kebutuhan utama untuk memperkuat konektivitas nasional dan mendukung pemerataan pembangunan. Indonesia membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Rusia untuk berpartisipasi dalam pengembangan koridor perkeretaapian strategis, termasuk Trans-Sumatera, Trans-Sulawesi, dan Trans-Kalimantan.
Selain pembangunan jaringan, kesempatan kerja sama meliputi pengembangan teknologi dan manufaktur sarana-prasarana perkeretaapian, rekayasa kereta berkecepatan tinggi dan angkutan berat (heavy-haul rail), peningkatan standar keselamatan serta pengembangan perkeretaapian rendah karbon. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dan riset juga menjadi bagian dari penawaran kerja sama tersebut.
Transport perkotaan, udara, dan maritim
AHY menyoroti pentingnya modernisasi transportasi perkotaan yang ramah lingkungan dan menyatakan bahwa pengalaman pengelolaan sistem transportasi publik di Rusia, khususnya Metro Moskow, dapat menjadi referensi bagi pengembangan MRT, LRT, dan kereta komuter di Indonesia. Pembahasan juga mencakup penguatan konektivitas udara untuk mendukung hubungan logistik dan mobilitas, serta percepatan ratifikasi Protokol Perubahan atas Perjanjian Angkutan Udara Indonesia–Rusia yang ditandatangani pada 2023.
Di sektor maritim, Indonesia melihat peluang untuk mengembangkan layanan pelayaran langsung yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia dan Rusia sebagai upaya memperkuat rantai pasok, meningkatkan efisiensi logistik, dan membuka koridor perdagangan maritim yang lebih tangguh. Langkah ini diharapkan pula dapat menurunkan waktu dan biaya distribusi barang antara kedua negara.
AHY menegaskan bahwa, di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Indonesia perlu terus membuka ruang kolaborasi yang berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. “Tujuan kami sederhana, bagaimana biaya logistik semakin efisien, konektivitas antardaerah semakin kuat, investasi dan lapangan kerja semakin tumbuh, serta distribusi barang dan layanan publik dapat menjangkau masyarakat dengan lebih baik,” paparnya.
Pemerintah juga mendorong kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, transfer pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kapasitas industri transportasi nasional agar semakin siap menghadapi tantangan masa depan. Menutup pertemuan, AHY menegaskan bahwa diplomasi harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan diarahkan untuk mendukung pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.





