Harga Pangan 9 Juni 2026 Turun, Cabai dan Daging Melemah!

Jakarta, Maret.id — Harga pangan nasional pada 9 Juni 2026 mencatat pergerakan yang cukup signifikan di berbagai provinsi dengan kecenderungan penurunan pada mayoritas komoditas pokok. Wapres Gibran Rakabuming Raka juga meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Gelondong Gede, Kabupaten Tuban, sebagai bagian dari pemantauan kondisi pasokan dan harga di tingkat pedagang tradisional.
Kondisi Umum Pasar dan Sumber Data
Data rata-rata pasar tradisional menunjukkan sebagian besar komoditas bahan pokok mengalami koreksi dibandingkan periode sebelumnya. Pergerakan harga ini tercatat dalam laporan PIHPS Nasional, Selasa (9/6/2026), yang menjadi rujukan pemantauan inflasi harga pangan.
Pergerakan Harga Beras
PIHPS mencatat beras kualitas bawah I berada pada level Rp 14.500/kg (-0,68%), kualitas bawah II Rp 13.500/kg (-6,57%), dan beras medium I Rp 15.300/kg (-5,56%). Sementara itu, beras medium II tercatat Rp 14.700/kg (-8,41%), beras super I Rp 16.000/kg (-8,31%), dan beras super II Rp 15.500/kg (-8,55%).
Pergerakan Harga Cabai
Harga cabai menunjukkan penurunan tajam untuk beberapa varietas, di mana cabai merah besar tercatat Rp 55.000/kg (-14,26%) dan cabai merah keriting Rp 58.400/kg (-5,5%). Cabai rawit hijau mengalami koreksi terbesar menjadi Rp 30.000/kg (-46,62%), sedangkan cabai rawit merah berada pada Rp 70.000/kg (-6,29%).
Daging, Gula, Minyak, dan Telur
Untuk komoditas protein dan bahan pokok lainnya, daging ayam ras segar tercatat Rp 32.500/kg (-15,36%), daging sapi kualitas 1 Rp 130.000/kg (-12,78%), dan daging sapi kualitas 2 Rp 120.000/kg (-14,74%). Gula pasir premium diposisikan pada Rp 19.000/kg (-6,17%) dan gula pasir lokal Rp 17.000/kg (-11,23%).
Minyak goreng menunjukkan koreksi tipis hingga moderat dengan minyak goreng curah Rp 20.500/kg (-0,73%), minyak goreng kemasan 1 Rp 22.000/kg (-8,52%), serta minyak goreng kemasan 2 Rp 20.500/kg (-11,64%). Harga telur ayam ras segar juga melemah menjadi Rp 26.000/kg (-14,47%).
Implikasi bagi Konsumen dan Pasokan
Penurunan harga mayoritas komoditas dapat meredam tekanan inflasi pangan dalam jangka pendek dan meringankan beban rumah tangga konsumen, terutama kelompok berpendapatan rendah. Namun, dinamika ini menuntut pemantauan berkelanjutan atas pasokan, distribusi, dan potensi fluktuasi musiman agar kestabilan harga dapat terjaga tanpa mengorbankan kelangsungan rantai pasok petani dan produsen.
Pemerintah dan pemangku kepentingan pasar diharapkan melanjutkan pengawasan harga serta koordinasi kebijakan pasokan untuk menghadapi variabilitas permintaan menjelang musim tertentu. Pemantauan data seperti yang disajikan PIHPS Nasional menjadi referensi penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam menilai langkah stabilisasi yang diperlukan.





