Pengamat Tegaskan Transportasi Jabodetabek Saingi Kota Dunia, Dorong Investasi!

Jakarta, Maret.id — Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setidjowarno menyatakan bahwa moda transportasi publik di Jabodetabek seperti Moda Raya Terpadu (MRT) dan kereta listrik (KRL) telah berada pada level yang setara dengan kota-kota besar di dunia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas infrastruktur dan layanan publik di wilayah metropolitan ini tidak kalah dari standar internasional.
Penilaian atas kualitas moda publik
Djoko menekankan bahwa MRT dan KRL di Jabodetabek menunjukkan kinerja yang kompetitif jika dilihat dari aspek kapasitas, frekuensi layanan, dan integrasi antarmoda. Ia menilai bahwa pembangunan fasilitas transportasi tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar mobilitas masyarakat urban.
Djoko juga menyoroti pentingnya mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih banyak beralih ke angkutan umum untuk mengurangi kemacetan dan eksternalitas negatif transportasi pribadi. Menurutnya, peningkatan kenyamanan dan keandalan layanan publik merupakan kunci untuk meningkatkan tingkat penggunaan angkutan massal.
Proyek strategis DKI Jakarta yang menjadi prioritas
Menurut penjelasan yang disampaikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menargetkan enam proyek strategis yang berpotensi meningkatkan konektivitas dan ketahanan infrastruktur kota. Enam proyek strategis tersebut meliputi Perluasan Pembangunan MRT Jakarta, Proyek Pembangunan Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), dan Proyek ITF (Intermediate Treatment Facility) Sunter.
Proyek lain yang masuk dalam daftar prioritas adalah Pembangunan Tanggul Pelindung Pantai NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) di pesisir utara, penguatan Sistem Polder Pompa Waduk Pluit Timur, serta Pembangunan LRT fase 2 dari Kelapa Gading menuju Jakarta International Stadium. Pemerintah daerah melihat proyek-proyek ini sebagai kebutuhan dasar yang mendesak bagi keberlanjutan fungsi ekonomi dan ketahanan kota.
Peluang investasi Jepang dan hubungan bilateral
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa keenam proyek strategis tersebut sangat berpotensi menyerap investasi lanjutan dari Jepang. Pernyataan ini sejalan dengan upaya memperkuat kerja sama ekonomi dan infrastruktur antara Jakarta dan mitra internasional, khususnya Jepang.
Peluang investasi tersebut turut menjadi perhatian ketika Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, melakukan kunjungan kerja ke Jakarta pada 4-6 Juni 2026. Hubungan antara Jakarta dan Tokyo yang terjalin sebagai sister-province sejak 1989 juga diperkuat oleh kehadiran lebih dari 10 ribu warga Jepang yang bekerja di 1.500 perusahaan di ibu kota.
Implikasi ekonomi dan kebutuhan dukungan
Skala investasi pada proyek infrastruktur transportasi dan pengendalian banjir dipandang memiliki potensi dampak ekonomi jangka menengah hingga panjang, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas kota. Namun, realisasi manfaat tersebut bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal regulasi, model pembiayaan, serta percepatan perizinan.
Para pengamat dan pelaku pasar menilai bahwa diperlukan kombinasi skema pendanaan, kerja sama teknis internasional, dan kebijakan yang mendukung transisi pengguna dari kendaraan pribadi ke angkutan massal. Dukungan dari Pemerintah Pusat juga dinilai krusial untuk memastikan kesinambungan proyek dan menarik investasi asing dalam skala besar.
Pihak pemerintah daerah berharap bahwa pembangunan dan perluasan transportasi yang telah menunjukkan kemajuan serta kenyamanan dapat memperoleh dukungan dan kejelasan kebijakan dari tingkat pusat. Langkah lanjut yang diperlukan meliputi koordinasi lintas-otoritas, pembiayaan yang inovatif, serta komunikasi yang efektif kepada publik untuk mengoptimalkan manfaat sosial-ekonomi dari proyek-proyek strategis tersebut.





