Harga Pertamax Naik Tekan Daya Beli, Ekonom Minta Bansos Tunai!

Jakarta, Maret.id — Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan harga Pertamax akan memberi tekanan pada harga barang kebutuhan pokok dan menurunkan daya beli rumah tangga jika tidak diimbangi kebijakan mitigasi yang tepat. Ia menyarankan intervensi fiskal berupa bantuan sosial langsung tunai yang bersasar kepada kelompok rentan, kelas menengah bawah, serta masyarakat yang terdampak kenaikan biaya transportasi.
Dampak pada Inflasi dan Konsumsi Rumah Tangga
Fakhrul menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan bakar bersih seperti Pertamax cenderung memicu biaya logistik dan distribusi sehingga menekan harga akhir barang kebutuhan pokok. Tekanan ini rawan mempercepat penurunan konsumsi rumah tangga bila penyaluran bantuan tidak dilaksanakan segera.
Rekomendasi Bantuan Sosial Tunai
Menurutnya, bantuan langsung tunai harus dirancang tepat sasaran agar beban ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung oleh masyarakat terdampak. “Pemerintah harus memikirkan cara gimana agar masyarakat terdampak, tidak menanggung seluruh beban ekonomi tersebut,” ujarnya.
Fakhrul menekankan bahwa sasarannya meliputi kelompok rentan, kelas menengah bawah, dan masyarakat yang mengalami kenaikan biaya transportasi. Penyaluran yang cepat dinilai penting untuk mencegah penurunan konsumsi yang terlalu dalam dan menjaga stabilitas permintaan domestik.
Peran Teknologi dalam Penyaluran Bansos
Ia mendorong pemanfaatan teknologi seperti digitalisasi sistem pembayaran untuk mempercepat dan memperketat proses penyaluran bantuan. Integrasi data kependudukan, perbankan, serta perkembangan artificial intelligence disebutnya sebagai kunci untuk meningkatkan akurasi targeting dan mengurangi kebocoran.
Implementasi sistem yang terintegrasi memungkinkan verifikasi penerima secara real time sehingga pemerintah dapat menyalurkan dana kepada mereka yang paling membutuhkan dalam jangka waktu yang singkat. Penggunaan teknologi juga dapat memperbaiki monitoring dan evaluasi program sehingga efektivitas kebijakan fiskal menjadi lebih terukur.
Fakhrul menilai bahwa penyaluran bantuan langsung tunai sebaiknya dilakukan segera setelah kenaikan harga berlaku agar dampak terhadap konsumsi rumah tangga dapat diminimalkan. Kebijakan yang tertunda berisiko memperdalam tekanan sosial-ekonomi di lapisan masyarakat yang rentan.
Implikasi Kebijakan Fiskal
Secara umum, ia memandang keputusan pemerintah menyesuaikan harga Pertamax dengan kenaikan lebih dari 30 persen sebagai langkah berat namun tidak bisa dihindari dari sisi fiskal saat ini. Penyesuaian harga merupakan bagian dari proses penyesuaian fiskal yang lebih luas untuk menjaga keberlanjutan anggaran negara.
Fakhrul mengingatkan bahwa pemerintah dihadapkan pada dilema menjaga keberlanjutan fiskal sambil meredam tekanan terhadap daya beli masyarakat. Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya impor energi menambah kompleksitas kebijakan makroekonomi yang harus diambil.
Ia menekankan bahwa pengelolaan dampak kenaikan harga energi memerlukan koordinasi kebijakan yang kuat antara kementerian terkait dan otoritas fiskal. Upaya tersebut harus mencakup langkah-langkah temporal seperti bantuan tunai serta kebijakan struktural untuk meningkatkan efisiensi energi dan diversifikasi pasokan.
Fakhrul juga mengingatkan bahwa komunikasi kebijakan kepada publik menjadi aspek penting untuk meredam ekspektasi inflasi dan menjaga kepercayaan pelaku ekonomi. Transparansi terkait alasan penyesuaian harga dan mekanisme bantuan sosial menjadi bagian dari strategi mitigasi yang disarankan oleh analis tersebut.





