Ekonomi

Rupiah Melesat ke Rp17.865 per Dolar AS, Inflow Asing Perkuat Pasar!

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar rupiah menunjukkan performa gemilang pada penutupan perdagangan pekan ini, menguat seiring respons positif pasar terhadap bauran kebijakan moneter Bank Indonesia serta derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Penguatan Rupiah dan Respons Kebijakan Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia kini semakin solid.
Destry menyoroti serangkaian langkah kebijakan yang memperkuat fundamental, termasuk kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), insentif hedging swap, serta perluasan operasi moneter.

Nilai tukar rupiah pada Jumat 12 Juni 2026 ditutup pada level Rp 17.865 per USD atau menguat 0,84 persen dibandingkan penutupan tanggal 5 Juni 2026 di level Rp 18.010 per USD, ujar Destry dalam keterangan persnya pada Jumat (12/6/2026).
Perkembangan ini, menurutnya, mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia.

Aliran Modal Asing dan Aktivitas Pasar Keuangan

Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan terlihat menjadi magnet bagi investor global, sehingga daya tarik instrumen keuangan domestik meningkat signifikan.
Minat investor global tercermin dari lonjakan transaksi SRBI nonresiden sebesar Rp15,11 triliun dan pembelian surat berharga negara (SBN) sebesar Rp3,91 triliun pada periode 10-11 Juni.

Selain transaksi di pasar domestik, penerbitan obligasi internasional juga menunjukkan minat kuat terhadap aset Indonesia.
Obligasi internasional Danantara mencatat penjualan perdana mencapai Rp26,9 triliun, yang menunjukkan kepercayaan pasar global terhadap profil risiko dan imbal hasil aset-aset domestik.

Destry menegaskan bahwa pasca kenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif dan menandakan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.
Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau dinamika pasar dan menyesuaikan operasi moneter untuk memastikan kelancaran transmisi kebijakan.

Perluasan Instrumen dan Insentif Hedging

Penguatan struktur suku bunga SRBI dan insentif untuk hedging swap dirancang untuk memperdalam pasar rupiah dan mengurangi volatilitas nilai tukar.
Perluasan operasi moneter yang ditempuh BI bertujuan memberi sinyal komitmen otoritas terhadap stabilitas makroekonomi sekaligus menyediakan likuiditas yang memadai.

Langkah-langkah tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan basis investor lokal dan asing sekaligus memperkuat transmisi kebijakan suku bunga ke pasar keuangan.
Dengan mekanisme pasar yang lebih dalam, otoritas berharap stabilitas harga dan nilai tukar dapat terjaga dalam jangka menengah.

Kerja Sama Regional sebagai Sabuk Pengaman Finansial

Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan instrumen domestik, tetapi juga memperluas sabuk pengaman finansial melalui kerja sama regional.
Kolaborasi tripartit dengan bank sentral China (PBOC) dan otoritas moneter Hong Kong (HKMA) menghasilkan tiga kesepakatan krusial.

Ketiga kesepakatan tersebut meliputi penguatan stabilitas keuangan regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan Local Currency Transaction (LCT).
Langkah ini dirancang untuk mereduksi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas rupiah melalui mekanisme regional.

Destry menegaskan Bank Indonesia tidak akan kendur dalam mengawal momentum positif ini dan akan terus hadir di pasar secara konsisten.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamental, tutupnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button