Zaskia Adya Mecca Desak Publik Tak Diam: Siapa yang Akan Selamatkan Negeri Ini!

Jakarta, Maret.id — Zaskia, seorang aktivis sosial, menyatakan bahwa tindakan yang diambilnya merupakan respons atas kekhawatiran yang mendalam terhadap kondisi bangsa Indonesia. Ia berpendapat bahwa arah yang diambil negara saat ini sangat mengkhawatirkan dan tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
“Ini karena kegelisahan ya. Kalau buat aku, melihat segala sesuatu yang enggak sreg sama hati dan rasanya kok salah gitu,” ungkap Zaskia di lokasi posko logistik yang didirikannya. Menurutnya, memilih untuk diam bukanlah pilihan yang tepat di tengah keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang kacau balau seperti sekarang ini.
Panggilan untuk Bertindak
“Rasanya kok kalau diam saja, kalau semua orang milih diam, siapa yang akan berbicara dan mencoba menyelamatkan dan membenarkan ini,” ujarnya ketika berada di lokasi. Posko logistik yang dibentuknya bersama relawan terletak di depan Grand Hyatt Jakarta, di kawasan Bundaran HI. Di sana, Zaskia menyediakan berbagai macam bantuan, mulai dari roti hingga air mineral yang siap didistribusikan kepada para demonstran.
“Banyak banget (porsinya). Dari tadi pas kita buka posko di sini, Alhamdulillah setiap saat ada kiriman makanan dan minuman yang kita enggak tahu dari siapa. Ini akan terus datang. Intinya kita siap mendukung adik-adik mahasiswa,” tegasnya. Di sekitar area tersebut, relawan juga membentangkan spanduk dengan nada satir. Beberapa di antaranya bertuliskan “Snack Gratis dari rakyat untuk rakyat” dan “BENERAN GRATIS GAK PAKE UANG PAJAKMU”.
Gelombang Aksi Mahasiswa
Hingga pukul 14.10 WIB, massa mahasiswa dari berbagai fakultas Universitas Indonesia (UI) belum terlihat memadati kawasan Bundaran HI. Aksi demonstrasi kali ini dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI yang membawa lima tuntutan penting. Tuntutan tersebut mencakup penghentian pemborosan anggaran negara, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisasi di ranah sipil, serta desakan agar Presiden Prabowo Subianto mengakui kegagalan pemerintah.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menekankan bahwa tuntutan tersebut merupakan suara murni dari masyarakat yang tertekan oleh kondisi ekonomi yang semakin sulit. “Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat sekarat dihajar pajak. Dan pemerintah? Sibuk memoles citra sambil membagi proyek kepada kroni,” imbuhnya.
Krisis Ekonomi dan Respon Masyarakat
Tuntutan-tuntutan yang diungkapkan oleh mahasiswa mencerminkan keresahan yang melanda berbagai lapisan masyarakat. Situasi ekonomi yang memburuk, ditandai dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan turunnya kesempatan kerja, menjadi sorotan utama dalam aksi kali ini. Dengan menggunakan platform demonstrasi, mahasiswa berusaha untuk menyampaikan jeritan hati rakyat yang merasa terpinggirkan.
Zaskia dan relawannya berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan mahasiswa, berupaya memberikan bantuan yang diperlukan sambil tetap mengedukasi masyarakat tentang pentingnya turut serta dalam proses pengambilan keputusan politik. Dialog dan interaksi antara berbagai elemen masyarakat menjadi hal yang sangat diperlukan untuk menciptakan perubahan yang diharapkan.





