Indonesia Tingkatkan Kerja Sama dengan Tajikistan untuk Ekspansi Pasar Manufaktur

Jakarta, Maret.id — Kementerian Perindustrian Indonesia memperkuat kerja sama industri dengan Republik Tajikistan melalui forum BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 yang berlangsung di Xiamen, Tiongkok. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk memperluas akses pasar manufaktur nasional, terutama di kawasan Eurasia dan Commonwealth of Independent States (CIS).
Kolaborasi untuk Mendorong Inovasi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa kolaborasi industri antarnegara harus terus diperkuat. Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya mendorong inovasi dan investasi, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi kedua negara. Agus menekankan pentingnya menciptakan peluang investasi yang bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Dalam pertemuan bilateral itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, melakukan diskusi dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Tajikistan, Aziz Nazar. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara BRICS Forum dan bertujuan untuk memperkuat hubungan perdagangan antara kedua negara.
Tajikistan sebagai Mitra Strategis
Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting yang dapat berfungsi sebagai pintu gerbang untuk produk manufaktur nasional ke pasar Eurasia. Posisi strategis Tajikistan di kawasan CIS diharapkan dapat membuka akses lebih luas bagi eksportir Indonesia.
Penguatan kerja sama ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan dan peluang yang saling menguntungkan. Tri Supondy menambahkan, “Kami berupaya menjalin kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jaringan industri dan peningkatan investasi yang efektif.”
Peningkatan Nilai Perdagangan
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Tajikistan telah menunjukkan perkembangan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Nilai perdagangan antara kedua negara mengalami peningkatan dari USD 1,7 juta pada tahun 2021 menjadi USD 1,9 juta pada tahun 2025, dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas.
Selain itu, kedua negara juga membahas tindak lanjut dari nota kesepahaman yang diajukan Tajikistan di bidang industri. Pembahasan ini difokuskan pada penyempurnaan ruang lingkup kerja sama agar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing negara.
Kerja sama ini juga mencakup beberapa sektor potensial seperti pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi, alat kesehatan, serta ekosistem industri halal. Sektor-sektor ini dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah karena kedua negara dapat saling melengkapi dalam hal keahlian dan sumber daya.
Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengumumkan partisipasinya sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan diadakan di Ekaterinburg, Rusia. Keikutsertaan ini diharapkan dapat memperluas promosi produk manufaktur Indonesia dan menjalin kemitraan baru dengan pelaku industri global.
Diharapkan, langkah-langkah strategis ini akan memperkuat portofolio perdagangan dan investasi Indonesia di kawasan Eurasia, serta membuat Indonesia semakin dikenal sebagai negara dengan produk manufaktur yang berkualitas di pasar internasional.





