Menekraf Mendorong Pengembangan Ekonomi Kreatif untuk Memperkuat Daya Saing ASEAN

Jakarta, Maret.id — Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya ekonomi kreatif dalam menjaga otonomi strategis Asia Tenggara. Ia percaya sektor ini memiliki potensi untuk memperkuat otonomi tersebut di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Ekonomi Kreatif Sebagai Mesin Pertumbuhan
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memprioritaskan ekonomi kreatif sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Riefky, sektor ini tidak hanya membantu menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mendorong kewirausahaan, inovasi, serta memperkuat diplomasi budaya.
Riefky mencatat bahwa pada tahun 2025, sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan performa yang sangat baik dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 6,86 persen. Angka ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih rendah.
Kontribusi Ekonomi Kreatif Terhadap Pekerjaan dan Investasi
Kinerja perekonomian kreatif yang positif ditunjang oleh nilai ekspor sebesar USD 31,94 miliar dan investasi yang terealisasi mencapai Rp 183 triliun. Menariknya, sektor ini juga menyerap lebih dari 27 juta tenaga kerja, di mana sebagian besar berasal dari kalangan pemuda yang siap berkontribusi.
Riefky menyampaikan bahwa kekayaan intelektual merupakan aset yang sangat strategis dalam ekonomi kreatif. Hal ini dapat memberikan nilai tambah dalam jangka panjang dan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja serta daya saing global.
Pentingnya Kolaborasi Regional dalam Ekonomi Kreatif
Dalam kesempatan tersebut, Terence Lee, Editor-in-Chief Tech in Asia, menekankan pentingnya kolaborasi regional untuk mengatasi beragam tantangan yang muncul di kancah global. Ia mencatat, kebutuhan akan koordinasi di antara negara-negara Asia Tenggara semakin mendesak untuk menghadapi masalah seperti ketahanan ekonomi dan pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Asia Economic Summit 2026, yang berlangsung sebagai forum tertutup, dihadiri oleh 250 pemimpin pemerintahan, CEO, investor, dan pembuat kebijakan. Mereka memiliki tujuan untuk mendorong kerja sama nyata antara sektor publik dan swasta dalam rangka meningkatkan ekonomi kreatif.
Menteri Ekraf juga mengundang semua delegasi Asia Economic Summit 2026 untuk turut serta dalam acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Acara ini akan diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada tanggal 21 hingga 23 Oktober 2026.
Dalam WCCE 2026, berbagai isu penting, termasuk platform digital, AI, serta kekayaan intelektual, akan menjadi fokus pembahasan. Hal ini dipandang sebagai kelanjutan yang krusial dari hasil diskusi di Asia Economic Summit 2026, dengan harapan dapat merumuskan agenda global yang baik dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Dengan demikian, ekonomi kreatif bukan hanya menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berfungsi penting dalam menjaga ketahanan serta mendorong inovasi dan kolaborasi di tingkat regional.





