Ekonomi

Pupuk Organik Cair Genjot Produktivitas Padi Situbondo, Pangkas Biaya Produksi Petani!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur optimistis produktivitas padi tembus 500.000 ton gabah kering panen (GKP) dari target sekitar 321.000 ton GKP tahun ini. Optimisme tersebut muncul seiring penerapan inovasi pupuk organik cair berbasis limbah rumah tangga yang dikembangkan oleh komunitas peduli sampah setempat.

Inovasi pupuk organik cair dari limbah rumah tangga

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyatakan bahwa pemanfaatan kulit buah, sisa sayur, dan limbah rumah tangga lain oleh komunitas tersebut menghasilkan pupuk organik cair yang diaplikasikan pada percontohan tanaman padi. Menurut Bupati, hasil ubinan pada lahan percontohan menunjukkan produksi padi mampu mencapai 9,1 ton gabah per hektare dibandingkan sebelumnya 7,3 ton gabah per hektare.

Konsekuensi produktivitas dan biaya produksi

Peningkatan produktivitas dari 7,3 menjadi 9,1 ton gabah per hektare menandakan potensi efisiensi skala yang signifikan bagi petani setempat, baik dalam hal pendapatan maupun penurunan biaya input. Selain meningkatkan hasil panen, pupuk organik cair ini juga disebut dapat menekan biaya produksi yang biasanya menjadi beban utama petani padi.

Permintaan perizinan dan perluasan pasar

Pemerintah daerah mendorong komunitas peduli sampah untuk segera melengkapi izin produksi agar produk pupuk organik cair dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi petani di kecamatan lain. Bupati juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan komunitas perguruan tinggi dan pihak lain untuk memperkuat tata kelola, mutu produk, dan akses pasar.

Dukungan kelembagaan dan adopsi teknologi

Peningkatan kapasitas produksi pupuk organik cair melalui legalisasi dan kemitraan lembaga dinilai krusial untuk memastikan standar mutu, keamanan hayati, dan keberlanjutan pasokan bahan baku limbah. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat mempercepat adopsi teknologi di tingkat desa dan mendorong rantai nilai pertanian yang lebih inklusif.

Petani setempat, Purwanto, mengungkapkan komitmennya untuk terus mengembangkan inovasi pupuk organik cair dari limbah rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa uji coba awal menunjukkan lonjakan hasil dari semula 6 ton per hektare menjadi 9,1 ton per hektare, dan pihaknya berniat mencoba mencapai produksi padi hingga 12 ton per hektare.

Upaya pengembangan pupuk organik cair ini membuka peluang bagi pengurangan ketergantungan pada input kimia komersial dan memperkuat ketahanan produksi pangan lokal. Jika praktik ini dapat direplikasi dan didukung kebijakan yang memadai, dampak terhadap produktivitas, biaya, dan pendapatan petani di Situbondo berpotensi terasa lebih luas di masa depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button