Airlangga Bongkar Penyebab Pertamax Tak Turun Meski AS

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Indonesia saat ini menunggu implementasi konkret dari perjanjian damai yang bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan jalur pelayaran ini dianggap strategis untuk distribusi minyak dunia, dan diharapkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga energi di pasaran.
Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa penyesuaian harga BBM, termasuk Pertamax dan jenis non-subsidi lainnya, bergantung pada distribusi pasokan minyak yang berjalan saat ini. “Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz, kita baru akan melihat penyesuaian terhadap harga. Ini tidak otomatis, kita harus menunggu implementasi dari perjanjian perdamaian,” ujarnya dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026.
Pasokan Minyak dan Harga Energi
Airlangga menambahkan bahwa masyarakat perlu bersabar menunggu penyesuaian harga BBM. “Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat,” kata Airlangga, mengindikasikan bahwa pergerakan harga BBM akan sangat bergantung pada aliran pasokan minyak ke pasar domestik. PENURUNAN harga minyak dunia yang tajam melengkapi pernyataan tersebut setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan antara Washington dan Teheran yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyaknya.
Menurut laporan terbaru, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, mengalami penurunan sebesar 5 persen dan ditutup pada level 78,96 Dolar AS per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga Brent diperdagangkan di bawah 80 Dolar AS per barel sejak Maret 2026. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan yang lebih mencolok, dengan harga ditutup pada 76,05 Dolar AS per barel atau turun 5,8 persen.
Kabar Positif dari Iran
Pelaku pasar menunjukkan respons yang positif setelah kabar bahwa Iran mungkin segera kembali mengekspor minyak ke pasar internasional. Jika hal ini terwujud, tambahan pasokan minyak global bisa terjadi, yang berpotensi menekan harga energi lebih lanjut. Pembukaan kembali Selat Hormuz diharapkan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi pasar dunia, tetapi juga bagi perekonomian negara-negara yang bergantung pada minyak sebagai sumber energi utama.
Sebagaimana diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur penting yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah dengan pasar dunia. Sekitar sepertiga dari total minyak yang diperdagangkan secara internasional melewati selat ini. Keadaan ini menjadikan setiap perubahan dalam situasi geopolitik di kawasan tersebut memiliki implikasi yang luas terhadap kestabilan harga energi global.
Mempelajari dampak dari perjanjian damai ini, Airlangga menekankan pentingnya perhatian dan persiapan dari semua pihak terkait. “Kami akan terus memantau situasi ini dan berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan untuk memastikan agar pasokan energi domestik tetap terjaga,” tutupnya.





