Permintaan Emas Pecahkan Rekor, Kapasitas Produksi Perlu Ditingkatkan

Jakarta, Maret.id — Permintaan emas global pada kuartal I mencapai rekor nilai, mendorong dorongan agar kapasitas pengolahan dan produksi emas domestik ditingkatkan untuk memperkuat kemandirian ekosistem industri logam mulia nasional.
Lonjakan Permintaan dan Dampak Ekonomi
Menurut data World Gold Council, total permintaan emas pada kuartal I, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Meski volume naik moderat, nilai permintaan melonjak 74% menjadi rekor USD 193 miliar seiring lonjakan harga emas. Permintaan untuk emas batangan dan koin tercatat 474 ton atau naik 42%, menjadikannya kuartal tertinggi kedua sepanjang sejarah, dengan investor Asia menjadi pendorong utama pembelian produk investasi emas.
Kondisi ini menghadirkan peluang ekonomi bagi pelaku pertambangan nasional, khususnya perusahaan milik negara. Herry Gunawan, pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, menilai lonjakan permintaan memberi dua alasan bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi: memaksimalkan potensi profit dari harga yang menguat dan membantu meredam defisit neraca perdagangan emas. Sejak 2021, Indonesia tercatat mengalami defisit dan menjadi net importir emas akibat impor yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan domestik dibandingkan ekspor.
“Harga yang naik dan permintaan yang tinggi menjadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Oleh karena itu peningkatan produksi menjadi sangat penting,” ujar Herry.
Upaya Peningkatan Kapasitas Produksi dan Rantai Pasok
Untuk merespons tren tersebut, anak usaha holding pertambangan MIND ID, PT Aneka Tambang (Antam), tengah membangun pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik dengan kapasitas hingga 30 ton per tahun. Fasilitas ini akan melengkapi kapasitas produksi kepingan emas Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini sekitar 40 ton per tahun.
Pasokan emas batangan nasional saat ini berasal dari dua sumber utama: tambang Antam di Jawa Barat yang menghasilkan sekitar 1 ton per tahun, serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50–60 ton per tahun. Dengan integrasi rantai pasok ini, Pemerintah melalui Grup MIND ID berupaya memperkuat ekosistem bullion nasional untuk memenuhi permintaan emas logam mulia domestik yang diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat.
Pakar dan pelaku industri menilai peningkatan kapasitas pengolahan dalam negeri merupakan langkah strategis untuk merespons lonjakan permintaan, mengurangi ketergantungan impor, serta menangkap nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.





