DEN Siap Kerja Sama Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dengan Negara Lain untuk Dorong Investasi, Perkuat Ketahanan Energi dan Turunkan…

Jakarta, Maret.id — Dewan Energi Nasional (DEN) menyatakan Indonesia siap bekerja sama dengan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Anggota DEN Sripeni Inten Cahyani mengatakan kebijakan politik luar negeri bebas aktif menjadi peluang strategis bagi kerja sama teknologi nuklir.
“Dewan Energi Nasional bisa mengembangkan nuklir dengan berbagai teknologi dari negara-negara yang maju. Kita bisa memakai dan mengembangkan teknologi dari Amerika, teknologi dari Rusia, teknologi dari China, Korea. Saya kira ini baik, karena kita memang mengadopsi politik bebas aktif,” ujar Sripeni Inten Cahyani, Anggota DEN.
Melalui PLN, ujar dia, Indonesia menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat untuk studi dan persiapan pengembangan nuklir.
Indonesia menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir mencapai 35-42 gigawatt pada 2060 sebagai bagian dari misi mencapai target net zero emission.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan pembangunan PLTN berkapasitas 500 megawatt yang mulai dikembangkan pada 2032 di sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan.
Untuk merealisasikan target tersebut, DEN mempertimbangkan pemanfaatan teknologi Small Modular Reactor (SMR), ujar Sripeni.
SMR dinilai memiliki tingkat keamanan lebih tinggi dan lebih sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, terutama untuk wilayah terpencil.
Meskipun biaya investasi SMR relatif lebih tinggi, Sripeni menilai teknologi ini tetap lebih efisien dibandingkan pembangkit berbahan bakar minyak seperti High Speed Diesel.
Namun demikian, teknologi SMR saat ini masih berada dalam tahap pengembangan di berbagai negara dan memerlukan kajian lanjutan terkait aspek teknis, regulasi, dan pembiayaan.





