Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Jadi Target Incaran Asing

Jakarta, Maret.id — Pengusaha Factory Outlet (FO), Perry Tristianto, menyampaikan pandangannya mengenai isu mafia komoditas dalam sebuah forum yang diselenggarakan di Hotel Bumi Siliwangi, Bandung.
Perry membeberkan pengalamannya berdialog dengan seorang mantan menteri ekonomi dan mengungkapkan adanya mafia yang menguasai berbagai barang komoditas strategis. “Di sini ada mafia ini, mafia ini, mafia ini yang menguasai barang-barang komoditas. Kenapa harus ada? Jawabannya, ‘saluran berkat’,” ungkap Perry.
Dia menekankan bahwa masalah ekonomi tidak dapat dijelaskan hanya melalui fluktuasi nilai tukar Dolar atau kondisi geopolitik global. Perry yakin bahwa pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk memperbaiki persoalan struktural di dalam negeri.
Ia juga menyoroti tingginya budaya konsumtif di Indonesia yang justru berpotensi menguntungkan negara lain. “Indonesia ini dikuasai gaya hidup. Pasar kita diincar negara lain, bukan kita yang menguasai pasar sendiri,” tegasnya.
Perry memberi contoh bahwa produk-produk unggulan Indonesia lebih mudah ditemukan di luar negeri dibandingkan di dalam negeri. “Kalau saya cari udang yang bagus, kenapa harus ke Singapura? Padahal itu udang dari Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Perry menilai bahwa regulasi pemerintah terhadap dunia usaha tidak menjadi masalah selama diterapkan secara adil kepada semua pelaku usaha. “Program pemerintah bagus. Silakan dijalankan. Tapi harus adil. Jangan ada yang dikenakan aturan, sementara yang lain tidak,” imbuhnya.
Ia mengilustrasikan penerapan pajak dan peraturan lainnya yang harus diberlakukan dengan konsisten tanpa pilih kasih. Perry juga mengingatkan pelaku usaha untuk tidak hanya menyalahkan pemerintah. “Jangan salahkan pemerintah saja. Pengusaha juga harus disalahkan kalau memang salah,” ungkapnya.
Perry mengusulkan agar pengawasan terhadap dunia usaha diperketat untuk mencegah praktik-praktik yang merugikan masyarakat. “Pemerintah harus mengawasi lebih ketat. Jangan sampai ada yang bermain atau tergoda kepentingan tertentu,” ujarnya.
Dia menekankan pentingnya kesadaran pengusaha bahwa keberlangsungan usaha sangat bergantung pada peran karyawan. “Pengusaha harus sadar bahwa mereka dihidupi oleh karyawannya, bukan sebaliknya,” pungkas Perry.





