Wamenko Pangan: Teknologi Dongkrak Produksi Jagung Nasional

Jakarta, Maret.id — Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pemanfaatan teknologi dan inovasi sebagai kunci mencapai target swasembada pangan nasional.
Hanif menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri panen raya jagung yang diselenggarakan Bayer Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Hanif menilai peningkatan produksi tidak cukup hanya dengan memperluas lahan tanam tetapi harus disertai penerapan teknologi pertanian modern di tingkat petani.
“Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional,” kata Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Badan Pusat Statistik melaporkan luas panen jagung pipilan nasional pada Januari 2026 mencapai 0,24 juta hektare, naik 11,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen pada periode tersebut diperkirakan naik 11,09 persen menjadi 1,38 juta ton.
Ponorogo disebut sebagai salah satu daerah strategis dalam mendukung target swasembada jagung nasional.
Pada 2025 Kabupaten Ponorogo memiliki luas panen sekitar 39.046 hektare dengan produksi 284.242 ton dan produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyatakan pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Sebagai salah satu sentra produksi jagung di Jawa Timur, Ponorogo terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Lisdyarita, Plt Bupati Ponorogo.
“Di tengah tantangan yang terus berkembang, pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi langkah penting agar petani mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung pencapaian target swasembada jagung nasional,” kata Lisdyarita, Plt Bupati Ponorogo.
Dalam kegiatan panen raya tersebut Bayer Indonesia memperkenalkan penerapan benih jagung hibrida Dekalb DK19C yang dinilai memiliki performa agronomi baik berdasarkan evaluasi di Desa Pijeran.
Aditia Rusmawan, Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia, mengatakan perusahaan akan memperkenalkan benih jagung bioteknologi baru dalam waktu dekat.
“Bagi Bayer, inovasi pertanian harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik,” kata Aditia Rusmawan, Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia.
Aditia menambahkan bahwa inovasi benih tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga menekan biaya produksi melalui rendemen yang tinggi dan kadar air yang lebih rendah saat panen sehingga biaya pengeringan menjadi lebih efisien.
Salah seorang petani jagung asal Kecamatan Siman, Miswanto, mengaku mengalami peningkatan hasil setelah menggunakan benih tersebut.
“Sejak menggunakan benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman lebih seragam, tongkolnya lebih bagus, dan hasil panennya meningkat. Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer, juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” kata Miswanto, Petani Jagung Kecamatan Siman.
Penerapan benih hibrida dan pendampingan teknis di lapangan diharapkan mempercepat adopsi teknologi bagi petani kecil dan berkontribusi pada peningkatan produktivitas nasional, sekaligus menurunkan ketergantungan pada impor.





