Cadangan Strategis Masih Jadi Tantangan Energi Indonesia

Jakarta, Maret.id — Politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mulyanto, memperingatkan bahwa defisit neraca perdagangan yang dipicu oleh meningkatnya impor sektor migas, terutama BBM dan LPG, dapat membahayakan stabilitas keuangan negara. Menurutnya, masalah energi kini telah menjadi isu strategis yang mempengaruhi ketahanan ekonomi nasional.
“Setiap liter BBM dan setiap kilogram LPG yang kita impor berarti devisa negara keluar. Sebaliknya, setiap keberhasilan mengurangi impor energi akan langsung memperkuat neraca perdagangan, cadangan devisa, dan nilai tukar rupiah,” tuturnya.
Mulyanto menegaskan bahwa ketahanan energi sangat krusial sebagai sumber ketahanan devisa. Dia mencatat bahwa meski surplus perdagangan nonmigas mampu menutupi defisit migas dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga minyak dunia dan minimnya cadangan penyangga BBM telah menyebabkan kondisi ini tidak dapat bertahan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada energi impor adalah titik lemah dalam fundamental perekonomian nasional. Mulyanto mendukung kebijakan pemerintah untuk mensubstitusi LPG dengan gas bumi domestik sebagai langkah yang tepat.
“Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar, dan pemanfaatannya di dalam negeri akan mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor,” jelasnya. Namun, dia menekankan pentingnya pembangunan cadangan strategis BBM nasional untuk memastikan ketahanan energi.
“Indonesia sudah saatnya membangun cadangan strategis BBM nasional sebagai bagian dari sistem ketahanan energi,” tegas Mulyanto. Cadangan ini diharapkan dapat berfungsi sebagai penyangga saat terjadi gangguan pasokan global atau lonjakan harga minyak.
Saat ini, kapasitas cadangan operasional BBM Indonesia dinilai masih terbatas. Oleh karena itu, Mulyanto meminta pemerintah agar segera menyusun peta jalan untuk pembangunan cadangan strategis tersebut yang dapat menopang kebutuhan impor bersih selama minimal 90 hari.
“Cadangan ini bukan hanya menjaga keamanan pasokan, tetapi juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk meredam gejolak harga dan mengurangi risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional,” imbuhnya.
Dia juga menyerukan perlunya pembenahan manajemen hulu migas secara menyeluruh, termasuk pembangunan kilang-kilang baru untuk meningkatkan produksi BBM nasional.
“Ketepatan kebijakan energi harus menyeluruh dari hulu hingga hilir. Peningkatan produksi migas, modernisasi kilang, substitusi dengan gas domestik, efisiensi energi, dan cadangan strategis harus menjadi strategi nasional yang saling menguatkan,” sambungnya.
Mulyanto menekankan bahwa Indonesia diberkahi dengan sumber daya energi melimpah. “Sudah saatnya kekayaan ini dikelola untuk memperkuat kemandirian bangsa,” tegasnya.
“Karena pada akhirnya, ketahanan energi bukan hanya menjaga pasokan energi, tetapi juga menjaga devisa negara, memperkuat rupiah, dan membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dalam menghadapi dinamika global,” pungkasnya.





