Ekonomi Riil Indonesia Dinilai Masih Solid, Dorong Investasi

Jakarta, Maret.id — Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Suhindarto mengatakan ekonomi riil Indonesia pada dasarnya masih solid.
“Kalau kita lihat untuk kuartal 1-2026 kemarin, realisasinya mengalami pertumbuhan yang terakselerasi dibandingkan dengan kuartal keempat 2025 sebelumnya,” ujar Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Ia mengatakan indikator acuan di sektor riil menunjukkan indeks keyakinan konsumen masih berada pada kondisi optimis meski relatif ada penurunan.
Penjualan ritel juga mengalami kondisi yang baik meskipun dalam dua bulan terakhir pasca Lebaran mulai mencatat kontraksi, namun secara umum kondisinya dinilai tetap solid.
Pelemahan di sisi produksi, terutama di sektor manufaktur, perlu diwaspadai karena dampaknya cukup lebar mengingat sektor ini menyerap banyak tenaga kerja.
“Ini terlihat dari kondisi PMI (Purchasing Managers Index) Manufacturing Indonesia yang dirilis oleh S&P Global per Juni kemarin mengalami kontraksi yang cukup dalam. Kalau kita lihat selama tiga bulan terakhir memang kondisinya tidak ekspansif,” kata Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
“Secara umum sektornya masih solid. Namun di kuartal kedua ini perlambatannya perlu untuk diwaspadai,” ujar Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Dari sisi inflasi, ia menyampaikan angka masih terkendali meskipun arah pergerakannya mulai menuju ke batas atas rentang target Bank Indonesia.
“Namun kami mengira kemungkinan akan tetap bisa terjaga dalam rentang 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi/Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
Penilaian PEFINDO ini menegaskan pentingnya pengawasan terhadap perlambatan manufaktur dan perkembangan inflasi untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.





