Ekonomi

Tokenized ETF: Cara Kerja, Dampak dan Risiko Pasar Modal

Jakarta, Maret.id — Tokenized ETF yang memanfaatkan teknologi blockchain mulai menjadi alternatif bagi investor Indonesia untuk mengakses ETF AS seperti S&P 500 dan Nasdaq-100.

Akses tradisional ke instrumen tersebut sering terkendala syarat pembukaan akun broker luar negeri, modal awal yang relatif besar, dan perbedaan jam perdagangan.

Solusi tokenized ETF memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap ETF global lewat token digital yang dapat dibeli melalui wallet kripto tanpa harus membuka rekening di broker asing.

“Tokenized ETF merupakan representasi digital dari ETF yang diterbitkan di blockchain dan nilainya mengikuti harga ETF acuan seperti SPY atau QQQ…” ujar Pintu Academy, unit edukasi Pintu.

Pernyataan itu dikutip pada Selasa (14/7/2026).

Nilai token akan bergerak sejalan dengan pergerakan harga ETF yang menjadi aset dasarnya.

Permintaan terhadap tokenized ETF tumbuh signifikan; hingga Juni 2026 kapitalisasi pasar sektor ini mencapai sekitar US$150 juta, atau melonjak hampir 400 persen dibandingkan September 2025.

Terdapat dua pendekatan utama dalam tokenisasi ETF yakni model synthetic yang mereplikasi harga melalui instrumen derivatif dan model regulated atau native yang didukung ETF asli oleh kustodian.

Model synthetic tidak menuntut kepemilikan fisik aset dasar, sedangkan model regulated/native menerbitkan token yang didukung langsung oleh ETF yang disimpan oleh kustodian.

Skema kerja dimulai ketika manajer aset membeli ETF di bursa konvensional dan menyimpannya pada kustodian sebelum aset tersebut diterbitkan dalam bentuk token di jaringan blockchain.

Transaksi tokenized ETF dijalankan melalui smart contract yang juga dapat mengotomasi verifikasi kepatuhan seperti prosedur KYC dan AML.

Salah satu keunggulan teknis adalah adopsi atomic settlement sehingga perpindahan aset dan pembayaran terjadi dalam satu proses hampir instan, berbeda dengan mekanisme T+2 pada ETF konvensional.

Dibanding ETF tradisional, tokenized ETF menawarkan fleksibilitas lebih tinggi karena memungkinkan transaksi di luar jam operasional bursa.

Instrumen ini juga mendukung pembelian dalam jumlah kecil atau fractional ownership sehingga kebutuhan modal menjadi lebih terjangkau.

Akses menjadi lebih praktis karena investor cukup menggunakan wallet kripto tanpa proses pembukaan rekening broker internasional.

Namun, produk ini tetap memiliki risiko karena pada banyak kasus investor tidak memegang saham atau ETF secara langsung melainkan hak klaim terhadap kustodian atau special purpose vehicle (SPV).

Likuiditas dapat berbeda antar blockchain atau platform sehingga harga token serupa berpotensi mengalami selisih ketika volume perdagangan rendah.

Risiko lain berasal dari potensi kerentanan smart contract, sehingga memilih platform yang telah menjalani audit keamanan menjadi sangat penting.

Beberapa pemain mulai mendominasi pasar, seperti Ondo Finance yang menawarkan lebih dari 400 saham dan ETF tokenized dengan total value locked (TVL) melebihi US$899 juta dan volume transaksi kumulatif lebih dari US$9 miliar.

Produk lain, xStocks yang dikembangkan Backed, telah menghadirkan lebih dari 100 saham dan ETF tokenized dengan volume perdagangan sekitar US$25 miliar sejak pertengahan 2025.

Di segmen institusional, BlackRock BUIDL yang diterbitkan melalui Securitize tercatat sebagai salah satu produk tokenisasi aset terbesar dengan aset kelolaan melampaui US$4 miliar dan menawarkan akses bagi investor institusi dengan investasi minimum US$5 juta.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button