1 Juta Ton Tetes Tebu Dorong Investasi Bioetanol

Jakarta, Maret.id — Pakar ekonomi Eliza Mardian menilai terdapat sekitar satu juta ton tetes tebu atau molase yang berpeluang dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol nasional.
“Total produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru diserap itu 900 ribu ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai…” ujar Eliza Mardian, Pakar Ekonomi CORE Indonesia.
Eliza menjelaskan pasokan tetes tebu sebagian besar berasal dari luar Pulau Jawa sementara fasilitas pengolahannya terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga menimbulkan beban biaya logistik.
“Realitas produksi domestik itu cuma sekitar 26 ribu kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo…” ujar Eliza Mardian, Pakar Ekonomi CORE Indonesia.
Eliza mencatat total kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional mencapai 303 ribu KL dengan utilitas aktual berkisar di angka 172 ribu KL.
“Sebagian besar masih dialokasikan untuk keperluan industri non-BBM seperti kosmetik, farmasi, pangan…” ujar Eliza Mardian, Pakar Ekonomi CORE Indonesia.
Ia menilai kondisi itu menunjukkan keterbatasan pasokan bahan baku dan infrastruktur industri yang belum siap menyokong mandatori campuran pada skala nasional dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, menurut Eliza, penerapan kebijakan bioetanol E5 hingga E20 memerlukan investasi masif dalam rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.
“Keberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina…” ujar Eliza Mardian, Pakar Ekonomi CORE Indonesia.
Ia mengatakan ketimpangan kemampuan produksi fuel grade ethanol (FGE) dengan kebutuhan untuk pengembangan bioetanol dapat ditutup secara bertahap tanpa harus bergantung pada impor etanol jika upaya peningkatan produktivitas dan investasi dilaksanakan.
“Pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak (E10) mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20…” ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Para pengamat menilai realisasi target tersebut dapat memperkuat ketahanan energi dan menyerap kelebihan produksi molase dari daerah luar Jawa, namun keberhasilannya bergantung pada perbaikan logistik, kepastian offtaker, serta investasi terukur di sepanjang rantai nilai bioetanol.





