Kepuasan Terhadap Prabowo Anjlok Akibat Kekecewaan Menengah

Jakarta, Maret.id — Penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto diindikasikan terkait melemahnya dukungan dari kelas menengah. Kelompok ini merasa belum merasakan dampak dari berbagai program pemerintah.
Hasil survei terbaru yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan penurunan kepuasan terhadap Presiden Prabowo dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai hasil survei tersebut tidak mengejutkan. Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi sebelumnya telah menyerukan bahwa kelas menengah tengah menghadapi tekanan.
“Kalau saya pribadi tidak terlalu kaget dengan angka survei terbaru itu. Jauh-jauh hari banyak ekonom sudah mengatakan bahwa kelas menengah di Indonesia berkurang sekitar 13 juta orang,” tutur Hendri Satrio.
Dia menambahkan, majoritas program unggulan pemerintahan Prabowo dinilai lebih fokus pada masyarakat kelas bawah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan beasiswa.
Hendri Satrio menduga, responden yang puas terhadap kinerja pemerintah sebagian besar berasal dari kelompok penerima manfaat program tersebut. “Saya membayangkan 51 persen yang puas itu kemungkinan besar berasal dari kelas menengah ke bawah,” imbuhnya.
Di sisi lain, Hendri Satrio mengamati bahwa stagnasi ekonomi rumah tangga telah memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintah. Fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya) menjadi contoh melemahnya daya beli masyarakat.
Hendri menduga penurunan kepuasan paling signifikan berasal dari kalangan kelas menengah dan masyarakat terdidik. “Saya menduga ketidakpuasan terjadi pada kelas menengah dan kaum terdidik karena banyak program Prabowo yang menyasar masyarakat kelas bawah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun kelas menengah hanya sekitar 18 persen dari total populasi pemilih, pengaruh sosial mereka sangat besar dalam membentuk opini publik. “Dalam pemilu memang kelas menengah jumlahnya tidak terlalu banyak, sekitar 18 persen. Tapi suara mereka bisa memengaruhi kelas bawah,” tutup Hendri Satrio.





