Politik

Menkominfo Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Video Demo

Jakarta, Maret.id — Di tengah maraknya unggahan video aksi demonstrasi di media sosial, masyarakat diingatkan untuk tidak mudah terprovokasi. Banyak konten yang beredar diduga merupakan rekaman lama atau hasil editan yang berpotensi menyesatkan publik.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meminta media massa untuk memperkuat perannya dalam menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan cepat. Kecepatan media dalam mengungkapkan informasi yang benar menjadi kunci untuk mencegah penyebaran disinformasi yang membingungkan masyarakat.

“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” kata Meutya Hafid di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 3 Agustus 2026.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI, media sosial dipenuhi berbagai video aksi demonstrasi yang diunggah tanpa menyertakan keterangan waktu maupun lokasi kejadian. Beberapa unggahan membentuk narasi seakan-akan terjadi demonstrasi besar yang tidak diberitakan oleh media, serta munculnya tudingan mengenai penghapusan konten terkait.

Meutya Hafid menyatakan bahwa pola penyebaran hoaks kini semakin beragam. Terdapat konten yang sepenuhnya tidak benar, namun juga yang memanfaatkan video lama dengan konteks yang berbeda atau menggunakan rekaman dari luar negeri yang diklaim terjadi di Indonesia.

“Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda,” jelasnya. Dia juga menekankan bahwa media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi publik melalui kerja jurnalistik yang berlandaskan verifikasi dan akurasi.

“Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan,” ujar Meutya.

Di sisi lain, Meutya mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mempercayai atau menyebarkan video hoaks mengenai aksi demonstrasi yang banyak beredar. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sejumlah video viral yang beredar merupakan rekaman lama yang diunggah ulang tanpa memberikan konteks yang tepat.

Penyebaran konten lama seolah-olah merupakan peristiwa baru dapat membentuk persepsi keliru dan memicu disinformasi di ruang digital. “Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” tegas Meutya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button