Dunia

Angka kelahiran global anjlok, Memanas ketegangan geopolitik dan krisis ekonomi!

Jakarta, Maret.id — Populasi dunia diperkirakan sedang memasuki fase penurunan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, menurut studi demografi dan ekonomi terbaru yang memicu peringatan soal dampak jangka panjang terhadap perekonomian dan sistem kesejahteraan.

Temuan utama studi

Studi berjudul “Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World” yang diterbitkan awal Agustus 2026 oleh profesor ekonomi Jesús Fernández-Villaverde dari University of Pennsylvania bersama peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University menyimpulkan bahwa tingkat kesuburan global kemungkinan telah turun di bawah ambang penggantian. Para peneliti memperkirakan ambang penggantian global berada sekitar 2,2 anak per wanita, sementara angka saat ini diperkirakan tidak lebih tinggi dari 2,19 anak per wanita.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan angka kelahiran dalam skala luas yang belum pernah terjadi, bahkan jika dibandingkan dengan periode-periode krisis seperti perang atau pandemi. Para peneliti menyatakan bahwa fenomena ini menempatkan dunia pada jalur penurunan populasi dalam rentang waktu satu generasi jika tren berlanjut.

Cakupan data dan tren global

Analisis mencakup 236 negara dan wilayah selama periode 1950 hingga 2023 dan menemukan angka kelahiran menurun di 219 negara. Rata-rata, negara-negara tersebut kehilangan sekitar 0,062 kelahiran per wanita setiap tahunnya, dan penelitian menyebut ada sedikit bukti bahwa tren itu mulai stabil.

Meskipun populasi global belum mulai menyusut karena efek momentum demografis dari generasi besar sebelumnya, para peneliti memperkirakan pertumbuhan penduduk hanya dapat bertahan sekitar tiga dekade lagi. Dalam skenario yang diuraikan, populasi dunia diperkirakan mencapai puncak sekitar 9 miliar pada 2056 sebelum kemudian mulai menurun.

Variasi regional dan angka kesuburan

Penurunan kesuburan tidak hanya terbatas pada negara-negara kaya; tren tersebut meluas ke banyak negara menengah dan berkembang. Sebagai contoh, pada 2025 tingkat kesuburan diperkirakan hanya sekitar 0,87 di Thailand, 1,01 di Kolombia, 1,35 di Iran, dan 1,52 di Brasil.

Studi menegaskan tidak ada mekanisme otomatis yang memastikan tingkat kesuburan akan kembali ke ambang penggantian, karena penurunan saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor seperti biaya perumahan dan perawatan anak, ketidakamanan ekonomi, akses kontrasepsi, serta perubahan norma sosial dan preferensi keluarga.

Dampak ekonomi yang diperkirakan

Konsekuensi ekonomi dari penurunan populasi yang berkepanjangan berpotensi luas dan kompleks, menurut penulis studi. Generasi yang lebih kecil berarti jumlah pekerja yang lebih sedikit untuk menopang populasi lanjut usia, sehingga memberikan tekanan pada dana pensiun, layanan kesehatan, dan anggaran publik sekaligus memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Untuk Amerika Serikat, studi memperkirakan bahwa jika produktivitas tumbuh 2 persen per tahun tetapi angkatan kerja menyusut 0,5 persen per tahun, maka pertumbuhan Produk Domestik Bruto jangka panjang dapat turun menjadi sekitar 1,5 persen per tahun. Penurunan pertumbuhan tenaga kerja itu juga dapat memperbesar tantangan fiskal dan menekan kemampuan pemerintah membiayai layanan publik.

Perubahan proyeksi PBB dan angka saat ini

Perkiraan demografis Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan pergeseran tajam selama dekade terakhir. Pada 2015, proyeksi PBB mengasumsikan populasi dunia dapat melampaui 11,2 miliar pada 2100 tanpa puncak sebelum akhir abad ini. Namun revisi proyeksi 2024 memprediksi populasi akan mencapai puncak sekitar 10,3 miliar pada pertengahan 2080-an dan sedikit turun menjadi sekitar 10,2 miliar pada 2100.

PBB juga mencatat bahwa populasi dunia melewati angka 8 miliar pada 2022 dan saat ini berada pada kisaran sekitar 8,3 miliar orang, meski angka pastinya terus diperbarui seiring data baru masuk.

Respon kebijakan dan reaksi publik

Beberapa negara sudah merespons kekhawatiran demografis dengan kebijakan keluarga dan insentif untuk mendorong kelahiran. Rusia, misalnya, telah lama menempatkan demografi sebagai prioritas, dengan pejabat dan Presiden Vladimir Putin mendorong perbaikan kondisi ekonomi dan layanan dukungan keluarga untuk mendorong pilihan memiliki anak lebih banyak.

Di tingkat global, tokoh publik juga bereaksi terhadap temuan tersebut, termasuk pengusaha teknologi yang berulang kali mengingatkan tentang potensi masalah akibat penurunan angka kelahiran. Studi ini memicu perdebatan tentang apakah kebijakan fiskal, dukungan perumahan, subsidi perawatan anak, atau pendekatan lain diperlukan untuk membalikkan atau meredam tren penurunan tersebut.

Ketidakpastian dan pilihan kebijakan ke depan

Para peneliti menekankan bahwa tidak ada satu solusi tunggal karena penyebab penurunan kelahiran bersifat kompleks dan bervariasi antarnegara. Mereka mendorong penelitian lebih lanjut dan diskusi kebijakan yang menimbang kombinasi insentif ekonomi, dukungan sosial, dan perubahan struktur pasar tenaga kerja.

Akhirnya, studi ini memfokuskan perhatian pada tantangan jangka panjang yang mesti dihadapi oleh pembuat kebijakan dan masyarakat luas agar dapat menyiapkan sistem kesejahteraan, pasar tenaga kerja, dan perencanaan publik yang mampu menanggapi perubahan demografis yang cepat.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button