Sekutu Trump dan Netanyahu Dimakzulkan dan Jadi Tahanan Rumah, Memanas Pasar Keuangan!

Jakarta, Maret.id — Mantan Presiden Paraguay Santiago Peña resmi ditempatkan di bawah tahanan rumah setelah Senat negara itu pada Jumat (6/11/2026) memutuskan untuk mencabut jabatannya dalam rangka proses pemakzulan terkait skandal perbankan yang mengguncang negeri itu. Keputusan Senat mengikuti tuduhan serius bahwa Peña terlibat dalam penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran kepercayaan sehubungan dengan runtuhnya Ueno Bank, lembaga pemberi pinjaman digital yang menjerat hampir tiga juta nasabah.
Proses Pemakzulan dan Penahanan
Senat Paraguay memberikan suara untuk mencopot Peña dari jabatan pada 6 November 2026 setelah melalui proses pemakzulan yang intens. Setelah pemungutan suara, jaksa menempatkan Peña di bawah tahanan rumah sambil melanjutkan penyelidikan atas dugaan pelanggaran hukum.
Peña sempat mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis (5/11/2026) di tengah gelombang protes publik yang menuntut pertanggungjawaban, namun parlemen menolak menerima pengunduran tersebut dan melanjutkan proses hukum. Upaya Peña untuk menunda sidang dengan meminta tambahan waktu 72 jam ditolak oleh anggota Senat, dan pengacaranya menyatakan akan mengajukan keberatan atas proses yang dianggapnya tidak adil.
Tuduhan Penyalahgunaan Dana Publik
Jaksa menuduh mantan presiden menggunakan pengaruh politik untuk menyalurkan ratusan juta dolar dana publik ke Ueno Bank dan menutup mata terhadap anomali keuangan yang terjadi. Surat perintah penangkapan juga menargetkan mantan kepala Bank Sentral, Carlos Carvallo, yang disebut-sebut pernah menjabat sebagai eksekutif senior di Ueno.
Otoritas menyatakan bank mengalami masalah solvabilitas yang serius sehingga regulator mengambil alih pengelolaan, membekukan rekening hampir tiga juta nasabah dan mengunci lebih dari 800 juta dolar AS dalam simpanan publik termasuk dana pensiun. Penyidik juga menyoroti dugaan penggunaan lebih dari 50 perusahaan fiktif yang diduga dipakai untuk menutupi arus keuangan dan menyalahi aturan.
Dampak Politik dan Kepemimpinan Sementara
Situasi politik berubah cepat ketika Wakil Presiden Pedro Alliana dilantik sebagai pemimpin sementara dan diperkirakan akan menjabat hingga masa jabatan resmi berakhir pada Agustus 2028. Pelantikan Alliana dilakukan untuk memastikan kontinuitas pemerintahan di tengah gejolak sosial dan ekonomi yang muncul akibat runtuhnya sektor perbankan.
Krisis ini memicu demonstrasi besar-besaran di ibu kota Asunción, bentrokan dengan aparat kepolisian, dan tuntutan pertanggungjawaban dari ribuan warga yang tabungannya tidak dapat diakses. Para jaksa telah memperluas penyelidikan dan mengejar sejumlah eksekutif bank serta pihak lain yang diduga terlibat dalam skema tersebut.
Hubungan Internasional dan Reaksi Publik
Peña dikenal menjalin hubungan dekat dengan Washington dan pemerintahan Israel selama masa jabatannya, termasuk penempatan kedutaan Paraguay di Yerusalem pada Desember 2024. Hubungan ini kemudian menjadi sorotan ketika beberapa pihak mengaitkan dukungan politiknya kepada negara-negara tersebut dengan kebijakan dalam negeri yang berpengaruh pada bidang ekonomi dan perbankan.
Sikap Peña yang vokal mendukung kebijakan luar negeri tertentu serta dukungan pada tindakan militer gabungan di kawasan turut menambah kompleksitas politik seiring tekanan domestik yang meningkat. Di tengah semua itu, tuntutan transparansi dan reformasi sistem perbankan menjadi agenda utama bagi publik yang marah akibat hilangnya akses ke simpanan mereka.
Penanganan perkara ini diperkirakan akan berlangsung lama dan menjadi ujian bagi lembaga hukum Paraguay dalam menegakkan akuntabilitas pejabat tinggi. Pihak berwenang menyatakan akan terus mengusut jaringan yang diduga digunakan untuk menggelembungkan posisi keuangan bank hingga memberikan kepastian bagi para nasabah yang terdampak.





