KAI Melakukan Uji Coba Sarana Kereta Api untuk Persiapan Transisi Biodiesel B50

Jakarta, Maret.id — PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang mempersiapkan transisi energi nasional dengan melakukan pengujian sarana kereta api untuk menyambut implementasi bahan bakar biodiesel B50 yang diwajibkan mulai 1 Juli 2026. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam pengurangan emisi karbon pada sektor transportasi.
Pengujian Sarana Kereta Api
KAI telah menguji kinerja armada kereta untuk memastikan kesiapan dalam menggunakan biodiesel. Selama periode Januari hingga April 2026, KAI melayani lebih dari 19 juta pelanggan dan menggunakan bahan bakar biodiesel secara konsisten. Dengan demikian, perusahaan tersebut mencatat emisi karbon sebesar 127.315.192 kilogram dari total 47,4 juta penumpang sepanjang tahun 2025.
Anne Purba, Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan KAI, menekankan bahwa transisi energi merupakan kelanjutan dari program pemakaian bahan bakar sebelumnya. “Kami mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Kerjasama dengan Kementerian ESDM
KAI bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta LEMIGAS untuk melaksanakan uji coba ini. Proses pengujian dilakukan oleh tim teknisi yang bertanggung jawab memonitor performa mesin lokomotif di Depo Sidotopo sejak pertengahan April 2026.
Uji coba juga dilaksanakan pada kereta pembangkit di Depo Kereta Yogyakarta dengan memantau tingkat konsumsi bahan bakar. Setiap armada kereta pembangkit akan diperiksa secara berkala setiap kali mencapai waktu operasi 300 jam. Hal ini dilakukan untuk memastikan kinerja optimal sebelum transisi ke bahan bakar baru.
Perbandingan Emisi Karbon
Penelitian menemukan bahwa kendaraan bermotor pribadi menghasilkan gas karbon dengan rentang 120 hingga 250 gram per kilometer yang ditempuh oleh penumpang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan emisi kereta api yang hanya berkisar antara 15 hingga 40 gram per kilometer. Dengan beralih ke biodiesel B50, diharapkan KAI dapat lebih mengurangi jejak karbon dan mewujudkan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Wisnu Pramudya, Wakil Presiden Eksekutif Sekretaris Perusahaan KAI, mengingatkan pentingnya memastikan kesiapan standar operasional transportasi publik sesuai dengan kebijakan pemerintah. “Penerapan B50 harus dilakukan dengan kesiapan yang terukur agar tetap sejalan dengan standar keselamatan dan kualitas layanan. KAI terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan langkah ini, KAI berkomitmen untuk menjadi bagian dari transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di Indonesia. Bahan bakar biodiesel B50 merupakan salah satu solusi yang diharapkan mampu mengurangi emisi serta meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.





