Jerman Jual Senjata 800 Juta Euro ke Israel, Memanas Ketegangan Diplomatik Eropa!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Jerman memberi persetujuan ekspor alat pertahanan senilai hampir 800 juta euro untuk Israel pada periode Januari–Juni 2026, menurut laporan media Jerman yang mengutip jawaban resmi pemerintah terhadap penyelidikan parlemen. Jumlah itu dikatakan sekitar empat kali lipat dibandingkan nilai persetujuan pada 2025.
Rincian Paket dan Peran Kapal Selam
Sebagian signifikan dari nilai tersebut terkait kerja sama industri pertahanan Jerman–Israel yang juga disebut berkontribusi bagi kebutuhan Angkatan Bersenjata Jerman. Lebih dari dua pertiga dari persetujuan dikaitkan dengan INS Drakon, kapal selam kelas Dolphin II sepanjang hampir 70 meter yang dibangun oleh pabrikan Jerman TKMS (ThyssenKrupp Marine Systems).
Kapal selam itu mampu beroperasi lama di bawah permukaan dan dilaporkan meninggalkan pelabuhan Kiel menuju Israel pada 1 September 2026. Selain kapal selam, sisa paket mencakup peralatan yang menurut otoritas Jerman tidak diklasifikasikan sebagai “senjata perang”, termasuk senjata ringan, amunisi, bahan peledak, dan drone.
Kontroversi Politik dan Kritik
Keputusan Berlin memicu kritik keras dari Partai Kiri Jerman yang menuduh adanya “standar ganda” dalam kebijakan ekspor senjata. Seorang anggota parlemen Partai Kiri, Lea Reisner, menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah federal yang tetap bekerja sama erat dengan Israel meskipun terjadi tuduhan serius terkait hukum internasional terhadap beberapa operasi militer pihak Israel.
Reisner menyebut bahwa kemarahan politisi tertentu terhadap pernyataan pejabat Israel tidak diimbangi dengan langkah tegas Berlin terhadap tindakan yang disebutnya berpotensi melanggar hukum internasional. Tuduhan tersebut merujuk pada pernyataan pejabat Israel sebelumnya yang menimbulkan kecaman internasional, termasuk komentar yang dianggap merendahkan manusia terkait penduduk Gaza dan dorongan untuk tindakan militer yang lebih agresif.
Kerangka Hukum dan Keputusan Pemerintah Jerman
Undang-undang pengendalian senjata perang Jerman mensyaratkan izin ekspor dapat ditolak jika ada risiko senjata akan digunakan untuk tindakan yang mengganggu perdamaian atau menyalahi kewajiban internasional Jerman. Pada Agustus 2025, Berlin sempat menghentikan sebagian ekspor senjata ke Israel karena rencana pendudukan tertentu, namun pembatasan itu dicabut pada November setelah tercapainya gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Meski demikian, sejak pencabutan pembatasan tersebut, operasi militer Israel berlanjut di Gaza dan ada konfrontasi dengan Hizbullah di wilayah perbatasan Lebanon, yang menimbulkan kekhawatiran tambahan di kalangan pengamat dan sebagian politisi di Jerman.
Perluasan Kerja Sama Militer dan Uji Coba Rudal
Di sisi lain, hubungan militer antara Jerman dan Israel dilaporkan berkembang, termasuk uji coba sistem rudal Israel yang melibatkan pihak Jerman. Angkatan Laut Jerman menyatakan telah terlibat dalam pengujian rudal Israel di Atlantik Utara dengan jangkauan hingga 500 kilometer, langkah yang dianggap menandai perluasan interoperabilitas antara kedua negara.
Jerman sendiri tidak memiliki rudal balistik dengan jangkauan serupa dan mengandalkan sistem rudal jelajah seperti Taurus untuk kemampuan serang jarak jauh, sehingga kerja sama teknis semacam ini menjadi sorotan dalam konteks kebijakan pertahanan Berlin.
Dampak Diplomatik dan Isu Internasional
Dukungan Jerman terhadap Israel tetap kuat meski Israel menghadapi gugatan di Hadapan Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan. Isu tersebut turut memengaruhi posisi diplomatik Berlin, termasuk kegagalan Jerman memenangkan kursi di Dewan Keamanan pada pemilihan Juni 2026 di hadapan beberapa negara lain.
Keputusan pemerintah Jerman mengenai ekspor alat pertahanan ini menjadi titik fokus perdebatan tentang keseimbangan antara pertimbangan keamanan, kepentingan industri pertahanan nasional, dan kepatuhan terhadap kewajiban hukum internasional. Dengan tekanan politik internal dan sorotan global, kebijakan ekspor senjata Berlin ke Israel diperkirakan akan terus menjadi isu sensitif di tahun-tahun mendatang.





