Tanah longsor Nepal tewaskan 1.403 jiwa, memanas persaingan bantuan regional!

Jakarta, Maret.id — Jumlah korban tewas akibat longsor besar di Nepal dilaporkan mencapai 1.403 jiwa sementara 6.150 orang masih dinyatakan hilang menurut Otoritas Mitigasi dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan Berlanjut
Tim SAR terus melakukan upaya pencarian di daerah terdampak, dan pada Rabu ditemukan empat jenazah serta satu bagian tubuh di sebuah terowongan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Chilime di Distrik Rasuwa.
Hingga laporan terakhir, otoritas mencatat sebanyak 13.742 orang telah diselamatkan dari lokasi bencana sejak kejadian berlangsung.
Daerah Terdampak dan Pengungsian
Longsor yang terjadi pada 26 Agustus melanda beberapa wilayah termasuk distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading, menimbulkan kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur setempat.
Sebanyak 2.096 orang tercatat mengungsi dan menempati 29 pusat penampungan yang didirikan di ketiga distrik tersebut untuk menampung korban yang kehilangan rumah.
Dampak pada Infrastruktur dan Proyek PLTA
Selain rumah-rumah warga, bencana ini juga merusak infrastruktur publik dan beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air yang terletak di kawasan terdampak.
Penemuan jenazah di terowongan PLTA Chilime menyoroti risiko yang dihadapi pekerja dan potensi kerusakan pada fasilitas energi yang memerlukan pemeriksaan menyeluruh.
Koordinasi Respon dan Kebutuhan Mendesak
Otoritas setempat terus berkoordinasi dengan tim lokal untuk mempercepat evakuasi, penyelamatan, dan pendataan korban yang hilang atau terluka.
Kebutuhan mendesak kini mencakup makanan, tenda, layanan kesehatan darurat, dan peralatan pencarian untuk mencapai area-area yang masih tertutup material longsor.
Kondisi medan dan risiko longsor susulan menjadi kendala utama sehingga memperlambat akses tim penyelamat ke beberapa lokasi kritis.
Pihak berwenang menyatakan akan memprioritaskan keselamatan tim dan warga dalam setiap operasi lanjutan, sambil melakukan penilaian kerusakan untuk langkah pemulihan jangka menengah.
Masyarakat lokal juga terdampak secara ekonomi karena kerusakan lahan pertanian, jalur transportasi, dan sarana perdagangan yang menghambat kegiatan sehari-hari.
Pendataan korban dan kondisi infrastruktur akan menjadi dasar perencanaan rehabilitasi serta bantuan yang diperlukan oleh pemerintah provinsi dan otoritas pusat.
Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai estimasi kerugian total atau rencana bantuan internasional yang masuk, namun pemulihan diperkirakan memerlukan waktu dan sumber daya besar.
Pemerintah dan organisasi kemanusiaan diharapkan meningkatkan koordinasi untuk memastikan distribusi bantuan yang cepat dan merata kepada warga terdampak.





