FAO Waspada, Kenaikan Harga Logistik Memicu Krisis Pangan dan Ketegangan Geopolitik!

Jakarta, Maret.id — Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Maximo Torero memperingatkan bahwa kenaikan harga pasar yang bukan disebabkan kelangkaan stok kini menjadi risiko terbesar bagi ketahanan pangan global.
Premi Risiko Menggerus Harga
Torero menegaskan bahwa lonjakan harga saat ini lebih didorong oleh premi risiko pasar terhadap potensi kelangkaan di masa depan, bukan karena ketersediaan pasokan yang habis. Indeks Harga Pangan FAO pada September 2026 tercatat rata-rata 136 poin, meningkat 1,5 persen dibanding Agustus dan naik 5,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Gangguan Logistik dan Ancaman Iklim
Menurut Torero, rangkaian risiko mencakup gangguan logistik strategis seperti potensi hambatan di Selat Hormuz yang memengaruhi hingga 30 persen perdagangan pupuk internasional serta pembatasan baru terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam. Ancaman fenomena iklim El Niño yang peluang terjadinya diperkirakan hingga 90 persen memperparah ketidakpastian, sementara keterbatasan pasokan input pertanian diperkirakan menyentuh 25–30 persen.
Keterbatasan kapasitas pabrik pupuk baru juga menjadi masalah struktural karena pembangunan fasilitas tambahan diperkirakan membutuhkan waktu antara lima hingga sepuluh tahun. Tekanan biaya pengiriman yang membengkak dan rintangan pada jalur logistik seperti Terusan Panama dan rute Laut Merah turut menambah beban pada rantai pasok global.
Dampak pada Petani dan Perilaku Pasar
Kondisi ini mendorong petani untuk mengurangi penggunaan pupuk urea dan merotasi tanaman dari gandum serta jagung ke kedelai, langkah yang berisiko menurunkan hasil panen di masa depan. Perubahan praktik agrikultur tersebut, dipadukan dengan peningkatan biaya logistik, dapat memperpanjang tekanan harga hingga musim tanam mendatang.
Affordability atau keterjangkauan menjadi persoalan paling mendesak, terutama bagi negara-negara pengimpor pangan bersih di Afrika, beberapa kawasan Asia, dan negara kepulauan kecil yang rentan. Mengingat transmisi perubahan harga komoditas ke tingkat eceran biasanya membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan, Torero memperkirakan konsumen akan mulai merasakan dampak kenaikan harga akhir tahun ini.
Cadangan Pangan dan Langkah-langkah Kebijakan
Meski beragam tekanan, FAO mencatat cadangan sereal global masih relatif aman dengan rasio stok terhadap penggunaan untuk musim 2026/2027 diproyeksikan mencapai 31,7 persen. Torero menekankan bahwa kondisi itu tidak berarti ruang untuk berpuas diri, karena kemampuan sistem agribisnis menghadapi guncangan memiliki batas.
Torero memuji langkah Tiongkok sebagai produsen, konsumen, dan importir pangan besar dunia yang melakukan diversifikasi negara asal impor, menjaga keterbukaan pasar, serta memperkuat manajemen cadangan pangan. Kebijakan ekspor urea Tiongkok yang membantu meredam tekanan harga di pasar internasional diharapkan dapat berlanjut, dan Torero mendesak produsen serta importir utama untuk tidak melakukan distorsi pasar atau pembatasan ekspor input pertanian.
Solusi dan Investasi yang Diperlukan
Untuk memperkuat ketahanan pangan dunia, Torero mendorong kolaborasi lebih erat antara bank pembangunan, lembaga keuangan, dan donor dalam mendukung investasi sektor agrikultur. Ia juga menekankan pentingnya investasi pada teknologi alternatif pupuk seperti amonia hijau, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, pemanfaatan energi terbarukan dalam pertanian, serta pengembangan sistem prakiraan iklim yang lebih presisi.
Pandangan tersebut sejalan dengan tema Forum Pangan Dunia 2026, “Berinnovasi Hari Ini. Memberi Makan Besok”, yang diselenggarakan di Markas Besar FAO di Roma pada 8–16 Oktober dan menghadirkan peneliti, pemuda, serta investor dari 38 negara. Torero mengingatkan bahwa meskipun sistem agribisnis telah menunjukkan ketahanan dalam beberapa tahun terakhir, “ada batas untuk ketahanan.”
Ia menambahkan bahwa jika El Niño merupakan fenomena alam yang tak terhindarkan, konflik antarnegara sejatinya dapat dihindari melalui kebijakan kooperatif dan pencegahan. “Saat ini, kita harus mewaspadai setiap risiko,” tegas Torero sebagai penutup peringatan tentang rentannya ketahanan pangan global.





