Rupiah Melemah, Kemendag Dorong UMKM Ekspor Perkuat Penerimaan Devisa!

Jakarta, Maret.id — Kementerian Perdagangan mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan peluang ekspor yang muncul di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Peluang Kompetitif dari Pelemahan Rupiah
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag Ari Satria menilai pelemahan rupiah dapat membuat harga barang ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif dan relatif lebih murah bagi pembeli di pasar internasional. Secara teori, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volume permintaan asing terhadap produk-produk ekspor Indonesia.
“Secara teoritis memang dengan pelemahan rupiah harusnya harga barang kita itu bisa lebih bersaing,” kata Ari. Mekanisme pasar yang dijelaskan Ari mencatat bahwa ketika mata uang domestik melemah terhadap mata uang asing utama seperti dolar AS, penerimaan eksportir dalam bentuk rupiah akan meningkat saat konversi dilakukan.
Ketergantungan pada Bahan Baku dan Dampaknya
Ari menekankan bahwa potensi keuntungan dari pelemahan rupiah dapat terkoreksi apabila produsen masih bergantung pada bahan baku impor. “Kecuali kalau misalnya untuk produk-produk yang berbahan baku impor, mungkin akan sulit juga untuk meningkatkan ekspor, karena kenaikan harganya akan tergerus dengan kenaikan harga bahan baku impor,” kata Ari.
Kemendag mendorong transformasi rantai pasok dengan meningkatkan penggunaan bahan baku lokal untuk menyerap momentum kompetitif tersebut dan menjaga margin keuntungan pelaku usaha. “Kalau ini (bahan baku) 100 persen lokal, ya, jadi mungkin harusnya bisa lebih berkembang lagi ke depan,” ujarnya.
Dampak Jangka Pendek dan Rekomendasi untuk UMKM
Ari juga mengingatkan bahwa efek positif pelemahan nilai tukar terhadap kegiatan ekspor belum terlihat secara langsung karena pergerakan rupiah baru berlangsung selama seminggu terakhir. “Pelemahan rupiah baru seminggu ini, ya, dampaknya belum terlihat. Mungkin kalau teman-teman melakukan kegiatan ekspor, mungkin dua bulan atau tiga bulan ke depan baru bisa kelihatan dampaknya,” katanya.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian nilai tukar dan memaksimalkan peluang, pelaku UMKM dianjurkan melakukan evaluasi terhadap struktur biaya, strategi harga, dan eksposur valuta asing pada kontrak ekspor mereka. Selain itu, penguatan rantai pasok lokal, peningkatan mutu produk, dan diversifikasi pasar dinilai penting agar daya saing yang tercipta dapat berkelanjutan dan tidak mudah tergerus oleh fluktuasi harga bahan baku impor.
Kementerian Perdagangan menempatkan pendekatan proaktif kepada UMKM sebagai bagian dari upaya memperluas basis ekspor nasional, dengan mendorong pemanfaatan keunggulan komparatif yang muncul dari kondisi nilai tukar. Para pelaku usaha di sektor kreatif dan jasa diharapkan memantau perkembangan pasar ekspor secara berkala dan memanfaatkan kesempatan yang muncul sejalan dengan dinamika nilai tukar.





