Warga Gaza rayakan Idul Adha tanpa sembelih hewan kurban, memanas respons diplomatik!

Jakarta, Maret.id — Menjelang perayaan Idul Adha, banyak warga Gaza merasakan hari raya itu bukan lagi momen suka cita melainkan pengingat penderitaan akibat perang yang berkepanjangan.
Tradisi Kurban Tergerus Konflik
Ahmed Nashwan, seorang pria Palestina dari Jalur Gaza, mengatakan untuk tahun ketiga berturut-turut dirinya tidak bisa ikut pergi ke pasar ternak bersama keluarga memilih hewan kurban, tradisi yang dulu menjadi bagian penting perayaan Idul Adha.
“Sebelum perang, Idul Adha adalah momen kebahagiaan di mana keluarga berkumpul, memilih hewan kurban, dan membagikan daging kepada kerabat serta masyarakat miskin,” ujarnya.
Permintaan hewan kurban di Gaza menurun drastis karena kelangkaan dan lonjakan harga.
Kini banyak warga hanya mampu menyimpan doa dan kenangan karena terbatasnya pasokan pangan dan hewan ternak.
Harga Melonjak dan Pasokan Terhenti
Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, menyatakan harga hewan kurban meningkat tajam dari sekitar 500 dolar AS sebelum perang menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS, membuatnya di luar jangkauan mayoritas penduduk.
Menurutnya, penutupan perlintasan dan pembatasan ketat membuat hampir tidak ada ternak yang masuk ke Gaza.
Beberapa keluarga, kata Mohammed al-Hissi, seorang ayah empat anak dari Gaza City, sudah tidak mampu lagi membeli hewan kurban karena kekurangan pendapatan dan rumah yang hilang akibat konflik.
“Anak-anak dulu bangun pagi dengan pakaian baru dan ikut membagikan daging; sekarang semua berubah,” tuturnya.
Kerusakan Infrastruktur dan Dampaknya
Para pedagang mengungkapkan banyak ternak mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner sehingga stok hewan kurban semakin menipis.
Salah Afana, seorang pedagang ternak, mengonfirmasi permintaan nyaris hilang karena kemiskinan meluas.
Raafat Asaliya, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola otoritas setempat, mengatakan sebelum perang Gaza biasanya mengimpor puluhan ribu anak sapi dan domba menjelang Idul Adha.
Dengan penutupan perlintasan dan kerusakan peternakan, kandang, serta gudang pakan, impor berhenti total dan produksi lokal terhenti.
Banyak area penghasil ternak, khususnya di Gaza timur, hancur sehingga ketersediaan hewan kurban tergerus parah.
Penduduk setempat kini mengalami tahun ketiga berturut-turut tanpa akses memadai terhadap hewan kurban.
Kenangan dan Kehilangan
Di Gaza selatan, Mohammed Shallah (22) berdiri di samping makam ayahnya yang tewas dalam sebuah serangan udara di Khan Younis sambil mengenang tradisi keluarga saat Idul Adha.
Ia mengatakan tidak mampu melanjutkan kebiasaan yang dulu dilakukan ayahnya karena harga hewan yang kini sangat tinggi.
Kondisi kemanusiaan yang memburuk membuat sebagian besar keluarga harus mengutamakan kebutuhan dasar ketimbang membeli hewan kurban.
Tidak sedikit warga yang meragukan berapa lama lagi mereka harus menjalani Idul Adha tanpa tradisi kurban.
Para pelaku usaha dan pihak terkait terus memperingatkan bahwa tanpa perubahan akses kemanusiaan dan pemulihan infrastruktur, kesenjangan ketersediaan hewan kurban akan tetap menjadi bagian dari realitas pahit masyarakat Gaza.
Warga berharap ada langkah-langkah yang memungkinkan pemulihan pasokan dan membantu mengembalikan sebagian tradisi ke dalam perayaan yang selama ini menjadi penting bagi komunitas mereka.





