AS Ancam Ledakkan Oman Jika Kuasai Selat Hormuz, Harga Minyak Melejit!

Jakarta, Maret.id — Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Oman agar tidak mencoba menguasai atau mengambil alih kontrol atas Selat Hormuz, dengan mengatakan tindakan demikian berisiko memicu respons militer berat dari AS. Pernyataan itu disampaikan saat ia dimintai komentar mengenai kemungkinan kesepakatan jangka pendek yang memberi pengaruh kepada Iran dan Oman atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Isi Pernyataan Trump
Trump disitir mengatakan, “Oman akan berperilaku seperti negara lain atau, kami harus meledakkan mereka,” dan menambahkan bahwa pihaknya yakin Oman memahami konsekuensi yang dimaksud. Kata-kata itu memperlihatkan eskalasi retorika di tengah ketegangan yang sudah berlangsung lama di kawasan Teluk.
Blokade dan Aktivitas Angkatan Laut AS
Sejak 13 April, menurut keterangan yang beredar, Angkatan Laut AS dilaporkan melakukan pemblokadean terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Langkah ini mengubah dinamika navigasi di salah satu jalur laut tersibuk di dunia dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan operator pelayaran internasional.
Kebijakan Transit dan Syarat Berlayar
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa kapal-kapal non-Iran tetap diberi kebebasan untuk berlayar melalui Selat Hormuz selama mereka tidak melakukan pembayaran bea atau pungutan yang ditetapkan oleh otoritas Iran. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menekan pendapatan yang dianggap berasal dari bea masuk yang diberlakukan oleh Teheran, namun juga memicu pertanyaan mengenai legalitas dan keamanan jangka panjang jalur pelayaran internasional.
Reaksi dan Kebijakan Iran
Hingga pernyataan terakhir yang disebarkan, pihak Iran belum secara resmi mengumumkan pemberlakuan bea masuk bagi kapal asing, meskipun pembahasan internal mengenai rencana semacam itu terus berlangsung. Potensi pengenaan tarif dan kontrol tambahan atas lalu lintas di Selat Hormuz menjadi isu yang dipantau ketat oleh negara-negara Teluk dan komunitas maritim internasional.
Inisiatif “Project Freedom”
Pada awal Mei, Donald Trump mengumumkan sebuah inisiatif yang dinamai “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang terhambat dan berusaha meninggalkan perairan yang dianggap berisiko di sekitar Selat Hormuz. Tujuan program itu adalah memberikan dukungan bagi awak kapal dan operator yang terjebak oleh pembatasan navigasi, namun langkah operasionalnya kemudian mengalami perubahan.
Penangguhan dan Evaluasi Diplomasi
Satu hari setelah peluncuran program tersebut, Trump memutuskan untuk menangguhkan operasi “Project Freedom” guna memberi ruang bagi upaya pencapaian kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan de-eskalasi. Penangguhan itu mencerminkan keseimbangan antara tindakan militer dan diplomasi yang terus diupayakan oleh pihak-pihak yang terlibat.
Implikasi Regional dan Internasional
Kondisi ini mempertegas betapa rapuhnya situasi keamanan di perairan Teluk dan dampaknya terhadap pasokan energi global serta rute perdagangan internasional. Negara-negara kawasan dan aktor global kini dituntut untuk menilai kembali strategi keamanan maritim dan saluran diplomasi agar ketegangan tidak berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Perkembangan terkait ancaman, kebijakan pelayaran, dan upaya diplomasi di Selat Hormuz akan terus dipantau oleh pemerintah-pemerintah terkait dan badan-badan internasional yang berkepentingan dalam menjaga kelancaran rute laut strategis tersebut. Kepastian mengenai langkah selanjutnya menunggu konfirmasi resmi dari pihak-pihak yang terlibat.





