Dunia

WHO Waspada: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo 50%, Perdagangan Regional Anjlok!

Jakarta, Maret.id — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan angka kematian akibat wabah Ebola galur Bundibugyo dapat mencapai separuh dari kasus yang terkonfirmasi.

Angka Kematian dan Penilaian WHO

Pejabat teknis program kedaruratan kesehatan WHO, Anais Legand, menyebutkan bahwa data dari wabah Bundibugyo sebelumnya menunjukkan tingkat kematian antara 30 hingga 50 persen di antara pasien yang terkonfirmasi terinfeksi. Pernyataan itu disampaikan dalam pengarahan di Jenewa, di mana Legand menekankan bahwa angka tersebut berarti hingga lima dari setiap sepuluh orang berisiko meninggal jika terinfeksi.

Rekomendasi Perawatan dan Penanganan Klinis

WHO telah menerbitkan rekomendasi perawatan suportif bagi pasien Ebola yang menekankan tatalaksana suportif, deteksi dini, dan penguatan layanan kesehatan primer. Organisasi itu juga mengingatkan pentingnya pengujian yang lebih luas untuk mengidentifikasi kasus secara cepat dan membatasi penularan.

Kandidat Vaksin dan Jadwal Pengembangan

Salah satu kandidat yang dianggap paling menjanjikan adalah vaksin rekombinan dosis tunggal rVSV Bundibugyo yang dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative (IAVI), menurut WHO. Pengembangan vaksin ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan sebelum dapat mencapai tahap yang lebih matang untuk distribusi luas.

Alternatif Vaksin dan Uji Klinis

Kandidat vaksin lain, ChAdOx1 Bundibugyo, dikembangkan oleh Universitas Oxford bekerja sama dengan Serum Institute of India dan diperkirakan dapat tersedia dalam dua hingga tiga bulan untuk dinilai efektivitasnya melalui uji klinis. WHO menyatakan bahwa percepatan uji klinis dan kolaborasi internasional mutlak diperlukan agar evaluasi keamanan dan kemanjuran vaksin dapat segera diketahui.

Status Wabah dan Angka Kasus

Hingga 28 Mei tercatat 125 kasus terkonfirmasi Ebola Bundibugyo dengan 17 kematian yang tersebar di 13 zona kesehatan, demikian laporan yang dikemukakan WHO. Badan kesehatan dunia itu memperkirakan jumlah kasus baru kemungkinan meningkat seiring dengan perluasan pengujian di masyarakat yang terdampak.

Kebijakan Perjalanan dan Pengawasan Perbatasan

WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan dengan Republik Demokratik Kongo (RDK) dan Uganda pada masa wabah, namun menekankan perlunya pemeriksaan terhadap semua pelaku perjalanan yang akan berangkat. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko penularan lintas batas sambil menjaga kelangsungan logistik dan respon kemanusiaan.

Respon Internasional dan Koordinasi Regional

Beberapa pemimpin internasional telah menyerukan peningkatan koordinasi pengawasan perbatasan menyusul wabah, termasuk permintaan dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni kepada pimpinan Uni Eropa untuk memperkuat kontrol perbatasan. WHO sendiri telah menetapkan wabah di Kongo dan Uganda sebagai keadaan darurat yang memiliki risiko menyebar ke negara lain, sehingga menyerukan langkah mitigasi terkoordinasi.

WHO mengingatkan bahwa penanganan wabah memerlukan kombinasi langkah klinis, pencegahan penularan, pelacakan kontak, serta percepatan penelitian vaksin. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap gejala penyakit, mengikuti arahan kesehatan setempat, dan meningkatkan praktik kebersihan untuk mengurangi risiko penularan.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button