Eks Diplomat AS Waspada Akomodasi Tuntutan Iran Redam Risiko Harga Minyak Melejit!

Jakarta, Maret.id — Sejumlah syarat yang diajukan Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat dinilai akan menjadi tantangan serius bagi tim negosiator Washington, menurut analisis pakar kebijakan luar negeri.
Pernyataan itu disampaikan oleh Gordon Gray, mantan Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat, yang menilai masih ada ruang untuk negosiasi meski sejumlah garis merah Teheran sulit diterima.
Syarat Iran dan Dampak bagi Negosiasi
Gray menilai beberapa tuntutan Iran bukan hal baru dan telah lama menjadi posisi resmi Teheran.
Namun, ada sejumlah tuntutan yang menurutnya dapat menimbulkan kebuntuan jika tidak didekati secara kreatif.
Permintaan Iran yang paling problematis adalah upaya untuk mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
Posisi itu, menurut Gray, bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi dan tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat.
Peran Oman dan Solusi Alternatif
Meski demikian, Gray melihat peluang untuk mencari jalan tengah melalui peran negara-negara kawasan.
Ia menilai Oman, yang berada di sisi lain Selat Hormuz, memiliki posisi strategis untuk memfasilitasi solusi yang dapat diterima kedua belah pihak.
Menurut Gray, ada berbagai opsi kreatif yang dapat dieksplorasi untuk meredakan ketegangan di perairan strategis tersebut.
Pendekatan diplomatik regional dinilai penting untuk mengurangi kemungkinan konfrontasi militer atau gangguan lalu lintas maritim.
Isu Lebanon dan Prioritas Negosiasi
Gray juga menyatakan bahwa pembahasan soal Lebanon cenderung lebih bisa dimajukan dalam perundingan dengan AS.
Ia menilai isu Lebanon bukan prioritas utama bagi pemerintahan AS saat ini sehingga kecil kemungkinan menjadi penghalang besar dalam mencapai kesepakatan.
Penilaian ini menunjukkan adanya kemungkinan untuk membuat kemajuan pada isu-isu regional yang bersifat sekunder, sambil mempertahankan fokus pada isu-isu inti.
Meski demikian, dinamika politik domestik dan kekhawatiran sekutu di kawasan tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Isu-isu sekunder seperti Lebanon dapat menjadi area kompromi yang berguna untuk mempercepat pembicaraan yang lebih rumit.
Namun, kompromi tersebut tetap harus mempertimbangkan kepentingan keamanan regional dan kestabilan politik di negara terkait.
Hak Iran Memperkaya Uranium
Salah satu garis merah Teheran yang terus muncul adalah hak untuk memperkaya uranium, yang menurut Gray merupakan posisi historis Iran sejak era pemerintahan Shah.
Bagi Amerika Serikat, persoalan utama bukan pada hak tersebut secara mutlak, melainkan pada batas tingkat pengayaan yang diizinkan dan mekanisme inspeksi yang diberlakukan.
Perselisihan pada tingkat pengayaan dan akses inspeksi internasional menjadi titik sentral dalam perundingan nuklir.
Kesepakatan akan membutuhkan ketentuan teknis yang jelas agar program nuklir sipil Iran tidak beralih ke potensi pengembangan senjata.
Gray menekankan pentingnya mekanisme verifikasi yang kuat untuk meyakinkan komunitas internasional.
Tanpa jaminan inspeksi yang dapat dipercaya, kesepakatan apapun berisiko ditolak oleh pihak-pihak yang skeptis terhadap komitmen Teheran.
Diplomasi teknis dan kerja sama badan internasional diharapkan dapat mengatasi persoalan pengawasan dan transparansi.
Negosiator akan dituntut merancang parameter yang dapat diterima oleh semua pihak demi menghindari kebuntuan di masa depan.
Kesimpulannya, menurut Gray, sebagian besar tuntutan Iran masih membuka peluang untuk dinegosiasikan asalkan ada komitmen pada solusi kreatif dan dukungan regional.
Namun, isu-isu kunci seperti kontrol Selat Hormuz, tingkat pengayaan uranium, dan mekanisme inspeksi akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan pembicaraan tersebut.





