Trump Ubah Sikap di KTT NATO, Memanas Ketegangan, Pasar Eropa Waspada!

Jakarta, Maret.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak lagi menyinggung kritik terhadap Spanyol maupun nota kesepahaman (MoU) terkait Iran saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Ankara pada Rabu, 8 Juli 2026. Keputusan tersebut mencerminkan perubahan nada selama pertemuan puncak para pemimpin aliansi yang berlangsung di ibu kota Turki itu.
Ketiadaan Tuduhan Terhadap Spanyol di KTT
Sebelumnya Trump sempat melontarkan kritik terhadap kebijakan pertahanan Spanyol dan sikap negara itu terkait konflik di kawasan Teluk. Ada pula laporan bahwa pada suatu periode Trump pernah mempertimbangkan penghentian hubungan dagang sebagai respons atas perbedaan kebijakan, namun isu itu tidak diangkat kembali dalam diskusi resmi NATO.
Ketiadaan sorotan terhadap Spanyol pada KTT menyisakan tanda tanya soal strategi diplomasi AS di hadapan sekutu. Para delegasi tampak memilih fokus pada isu keamanan kolektif dan hubungan transatlantik ketimbang memanaskan kembali perselisihan bilateral.
MoU dan Isu Selat Hormuz
Topik nota kesepahaman tentang gencatan senjata sementara dengan Iran juga tidak menjadi pembahasan hangat selama sesi-sesi utama. Meski MoU dan keamanan maritim di Selat Hormuz menjadi perhatian, Trump tidak menggunakan forum KTT untuk menekan sekutu agar mengambil langkah serupa dengan Amerika Serikat.
Isu pembukaan akses pelayaran di Selat Hormuz mendapat sorotan karena dampaknya terhadap perdagangan global dan keamanan regional. Upaya AS untuk membentuk koalisi internasional yang lebih luas menghadapi tantangan prinsipil dan pragmatis di kalangan anggota NATO.
Pandangan Pengamat Internasional
Alam Saleh, pengamat hubungan internasional dari Australian National University, menilai kecil kemungkinan NATO mendukung langkah Washington untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz. Menurut Saleh, dari sudut pandang Iran, konflik yang berlangsung dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi negara tersebut.
“Untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam membuka Selat Hormuz, NATO harus mengubah filosofi mereka sepenuhnya, dari organisasi yang bersifat defensif menjadi ofensif dan memiliki misi global,” kata Alam Saleh. Ia menilai perubahan mendasar seperti itu nyaris tidak mungkin terjadi mengingat karakter dasar aliansi adalah pertahanan kolektif regional.
Alam Saleh juga menggarisbawahi bahwa Trump gagal meyakinkan sebagian anggota NATO agar bergabung dalam koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. Menurutnya, ketidaksepakatan tersebut membuat upaya pembentukan front bersama untuk menjamin kebebasan navigasi menjadi semakin rumit.
Implikasi bagi Aliansi dan Diplomasi
Pandangan pengamat memperlihatkan dilema yang dihadapi NATO antara komitmen pertahanan kolektif dan keterlibatan dalam operasi yang bersifat proyektif di luar wilayah tradisionalnya. Perubahan strategi yang diperlukan untuk mendukung langkah-langkah ofensif di kawasan Teluk akan memicu perdebatan panjang di antara negara anggota.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari NATO mengenai kemungkinan pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Para pemimpin aliansi di Ankara memilih menekankan dialog dan koordinasi yang berlanjut, sementara keputusan kolektif mengenai tindakan lebih jauh masih menyisakan ketidakpastian.





