Dunia

PBB: Kaum muda menunda nikah, memicu anjlok ekonomi dan pasar tenaga kerja!

Jakarta, Maret.id — United Nations Population Fund (UNFPA) melaporkan bahwa mayoritas kaum muda di berbagai belahan dunia hanya mempertimbangkan pernikahan dan memiliki anak bila kondisi finansial mereka memadai. Temuan ini berpijak pada survei besar yang mengungkap hubungan erat antara kesiapan ekonomi dan keputusan membangun keluarga di kalangan generasi muda.

Ruang lingkup survei

Survei UNFPA dilakukan pada periode 2025–2026 dan melibatkan lebih dari 108.000 responden berusia 18–39 tahun yang terhubung ke internet di 73 negara dan wilayah. Metodologi ini memberikan gambaran lintas regional tentang preferensi keluarga, meski UNFPA menekankan perbedaan konteks lokal antara negara-negara yang disurvei.

Preferensi ukuran keluarga

Di sebagian besar wilayah, keluarga ideal menurut responden adalah keluarga dengan dua anak, yang menjadi jawaban paling umum. Pola ukuran keluarga yang lebih besar relatif lebih sering dilaporkan di kawasan Afrika Barat dan Tengah serta Afrika Timur dan Selatan.

Persyaratan menjadi orangtua

Kesiapan finansial menjadi persyaratan utama bagi 88 persen responden, diikuti oleh pekerjaan yang stabil (87 persen) dan kesiapan emosional (85 persen). Secara konsisten, perempuan memberi penilaian yang lebih tinggi terhadap pentingnya syarat-syarat tersebut dibandingkan laki-laki.

Motivasi dan hambatan memiliki anak

Kegembiraan dan kebahagiaan yang dibawa oleh anak disebut sebagai alasan paling penting untuk ingin punya anak oleh sekitar 80 persen responden. Di sisi lain, hambatan paling menonjol adalah ketidakpastian ekonomi dan ketersediaan tempat tinggal, yang dinilai penting oleh 72 persen responden, sementara tidak adanya pasangan yang cocok serta masalah kesehatan reproduksi menjadi kendala signifikan berikutnya.

Respons UNFPA dan interpretasi temuan

Direktur Eksekutif UNFPA, Diene Keita, menilai temuan ini mengejutkan karena bertentangan dengan anggapan bahwa generasi muda menolak pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Keita menekankan bahwa masalah utama adalah ketidakpastian — bukan keengganan — sehingga salah memahami akar persoalan berisiko menghasilkan kebijakan yang keliru.

Implikasi kebijakan publik

Hasil survei ini memberi sinyal bagi pembuat kebijakan untuk fokus pada penguatan ketahanan ekonomi keluarga, ketersediaan perumahan terjangkau, serta akses terhadap pekerjaan stabil dan layanan kesehatan reproduksi. Upaya kebijakan yang tepat sasaran diharapkan dapat mengatasi hambatan struktural sehingga keinginan kaum muda untuk berkeluarga dapat terwujud tanpa harus menunggu kondisi yang tampak mustahil.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button