Brasil Kecam Upaya Trump Pungut Tarif Transit Selat Hormuz, Perdagangan Memanas!

Jakarta, Maret.id — Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengecam keras usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyarankan pengambilalihan kontrol di Selat Hormuz dan pengenaan tarif transit sebesar 20 persen.
Kritik keras dari Lula
Lula menyebut rencana itu sebagai tindakan pembajakan yang tidak bisa diterima. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungannya ke fasilitas laboratorium Institut Teknologi Maua di negara bagian Sao Paulo.
Respons terhadap klaim Trump
Komentar Lula muncul sebagai tanggapan atas unggahan media sosial dan wawancara televisi Presiden Trump di mana ia menyatakan AS siap bertindak sebagai penjaga Selat Hormuz dan mengenakan pungutan tambahan untuk alasan keamanan. Menurut Lula, negara yang selama ini memerangi pembajakan tidak pantas berubah menjadi pelaku pembajakan.
Isu hukum dan etika
Lula menilai langkah pemungutan biaya transit maritim semacam itu bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan norma internasional. Ia juga menggarisbawahi ketidakadaban bila sebuah tragedi dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan negara lain.
Dampak ekonomi yang dikhawatirkan
Presiden Brasil memperingatkan bahwa konsekuensi kebijakan semacam itu sudah mulai dirasakan di tingkat domestik, termasuk kenaikan harga bahan pangan. “Harga dari peperangan yang diakibatkan AS ini telah merembet hingga ke harga kacang, beras, dan tomat kita,” ujarnya.
Signifikansi Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi rute penting bagi transportasi energi global. Setiap gangguan atas jalur ini berpotensi menimbulkan gejolak pasar minyak dan memicu efek berantai pada pasokan komoditas.
Potensi reaksi internasional
Usulan penguasaan jalur laut oleh satu negara besar diperkirakan akan memicu protes diplomatik dan perdebatan hukum internasional. Para pengamat internasional kemungkinan akan mempertanyakan dasar hukum serta implikasi keamanan dan perdagangan dari langkah tersebut.
Pernyataan Lula menambah tekanan politik pada wacana tentang perilaku kekuatan besar di kawasan maritim. Perkembangan berikutnya akan ditunggu oleh komunitas internasional dan pelaku pasar yang mulai menilai dampak kebijakan terhadap rantai pasokan global.





