Jalur Kereta Singapura

Jakarta, Maret.id — Konsumen asal Singapura diperkirakan akan membelanjakan tambahan sekitar 1,05 miliar dolar Singapura setiap tahun di Johor Bahru setelah jalur kereta lintas perbatasan Rapid Transit System (RTS) Link mulai beroperasi, menurut studi terbaru yang dirilis oleh pelaku industri terkait.
Potensi Belanja Tambahan
Studi yang disusun oleh Federasi Bisnis Singapura, Asosiasi Restoran Singapura, dan Asosiasi Peritel Singapura menemukan peningkatan arus belanja yang signifikan ke kawasan Johor Bahru sebagai dampak langsung dari kemudahan akses transportasi lintas negara.
Penelitian itu juga memperkirakan arus belanja sebaliknya, yakni dari pengunjung Johor Bahru ke Singapura, akan bertambah sekitar 756 juta dolar Singapura per tahun sehingga mempengaruhi neraca belanja lintas perbatasan.
Pergerakan Penumpang dan Proyeksi RTS
Saat ini tercatat sekitar 19,4 juta perjalanan pulang-pergi per tahun yang dilakukan dari Singapura ke Johor Bahru melalui moda transportasi darat yang ada, sementara perjalanan dari Johor Bahru ke Singapura mencapai sekitar 5,9 juta perjalanan per tahun.
Dengan beroperasinya RTS Link, diproyeksikan akan ada tambahan sekitar 11,2 juta perjalanan pulang-pergi dari Singapura menuju Johor Bahru dan 3,3 juta perjalanan dari Johor Bahru ke Singapura, atau setara dengan kenaikan jumlah penumpang harian sekitar 39.700 orang.
Dampak pada Sektor Ritel dan F&B
Para pelaku ritel serta industri makanan dan minuman di Singapura diperkirakan akan menghadapi peningkatan persaingan akibat pergeseran pola belanja konsumen lintas perbatasan, di samping tekanan yang sudah ada terkait biaya tenaga kerja, biaya operasi, dan sewa.
“Perubahan ini bersifat struktural; bisnis perlu beradaptasi tidak hanya melalui perang harga tetapi juga dengan memperkuat penawaran produk, pengalaman pelanggan, dan produktivitas,” ujar Kok Ping Soon, Chief Executive Federation of Singapore Business, mengenai temuan studi tersebut.
Tantangan dan Peluang bagi Pelaku Usaha
Studi menekankan bahwa selain ancaman kompetisi, ada peluang signifikan bagi pelaku usaha di Johor Bahru untuk meningkatkan layanan, memperluas variasi produk, dan mengoptimalkan keuntungan dari lonjakan pengunjung Singapura.
Sebaliknya, pelaku usaha di Singapura didorong untuk memperkuat daya saing melalui inovasi, efisiensi biaya, dan peningkatan kualitas layanan agar dapat mempertahankan pangsa pasar di tengah meningkatnya mobilitas lintas perbatasan.
Dampak bagi Infrastruktur Perbatasan
Peningkatan perjalanan penumpang yang diantisipasi menuntut kesiapan infrastruktur perbatasan termasuk pengelolaan imigrasi, bea cukai, sistem tiket, serta keamanan yang terintegrasi antara kedua negara.
Koordinasi operasional antarpihak menjadi krusial untuk memastikan kelancaran arus penumpang serta mengurangi potensi antrean panjang yang selama ini sering menjadi masalah pada jam sibuk dan musim liburan.
Kebutuhan Kebijakan dan Kolaborasi
Industri dan pemerintah di kedua sisi perbatasan dipandang perlu bekerja sama dalam merancang kebijakan yang membantu pelaku usaha beradaptasi, misalnya melalui dukungan pelatihan tenaga kerja, insentif bagi UMKM, serta kebijakan persewaan dan zonasi komersial yang responsif.
Langkah-langkah pengaturan juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan manfaat ekonomi, mulai dari pengelolaan fiskal hingga langkah-langkah untuk melindungi kualitas pekerjaan bagi tenaga kerja lokal.
Kesimpulan dan Implikasi Jangka Panjang
Hubungan ekonomi dan sosial antara Singapura dan Johor Bahru yang telah lama terjalin membuat pembukaan RTS Link berpotensi menjadi katalis perubahan struktural pada pola perjalanan dan belanja lintas perbatasan.
Para pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan pengelola infrastruktur di kedua negara perlu memetakan strategi adaptasi agar manfaat ekonomi dari peningkatan mobilitas dapat dimaksimalkan dan risiko gangguan pada ekosistem bisnis dapat diminimalkan.





