Negosiasi Selat Hormuz Memanas; Iran Bantah Berunding AS, Pasokan Minyak Terancam!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Iran menegaskan belum melakukan perundingan langsung dengan Amerika Serikat, namun jalur diplomasi terus berlangsung melalui sejumlah negara mediator termasuk Pakistan dan Oman. Pembahasan utama saat ini terfokus pada mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik vital perdagangan energi dunia.
Diplomasi Tidak Langsung Melalui Mediator
Pejabat senior diplomatik Iran Abbas Araghchi dilaporkan melakukan komunikasi intensif melalui sambungan telepon dengan sejumlah pejabat regional serta pemerintah Pakistan. Pakistan disebut berperan memfasilitasi komunikasi antara Washington dan Teheran di tengah ketiadaan dialog langsung antar kedua pemerintahan.
Pembicaraan antara Iran dan Oman dikonfirmasi hanya membahas satu agenda utama, yakni skema pembukaan kembali Selat Hormuz. Sumber diplomatik menggambarkan pembicaraan itu sebagai langkah teknis awal untuk mengatur jalur pelayaran pascakonflik.
Perbedaan Pandangan soal Koridor dan Keamanan
Meskipun dialog berlangsung, perbedaan pandangan masih menjadi hambatan signifikan dalam mencapai kesepakatan akhir mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Iran menolak usulan pembentukan beberapa koridor pelayaran di bagian utara maupun selatan selat, dengan alasan pengelolaan jalur harus mempertimbangkan kondisi keamanan pascakonflik.
Teheran menegaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz tidak akan serta merta kembali seperti sebelum pecahnya perang, sehingga langkah-langkah pengamanan tambahan diperlukan. Selain soal koridor, pembahasan juga mencakup operasi pembersihan ranjau laut dan rencana penerapan biaya layanan maritim bagi kapal yang melintas, dua isu yang masih memicu perdebatan intens dalam proses negosiasi.
Reaksi AS dan Implikasi untuk Pasar Energi Global
Senator Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan pembicaraan menunjukkan perkembangan positif meskipun belum menghasilkan kesepakatan akhir, dan berharap ada penyelesaian dalam waktu dekat. Pernyataan itu menunjukkan ada harapan diplomatik, namun juga menggarisbawahi jarak yang masih harus ditempuh sebelum tercapainya kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk, sehingga setiap ketegangan di wilayah ini berpotensi memengaruhi distribusi energi global dan mendorong kenaikan biaya logistik serta harga minyak dunia. Karena itu, perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz terus menjadi sorotan komunitas internasional dan pelaku pasar energi yang mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan.





