Dunia

IDF Kepung Desa Tepi Barat Memanas, Warga Palestina Diperintahkan Tinggalkan Rumah!

Jakarta, Maret.id — Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memerintahkan pengosongan desa Qusra di Tepi Barat setelah pengepungan dan serangkaian serangan oleh pemukim yang berlangsung berhari-hari, menurut laporan yang beredar pada Sabtu (15/8/2026). Perintah tersebut datang ketika militer menyatakan kawasan itu sebagai zona militer tertutup dengan alasan perlindungan warga sipil, meski warga setempat mengatakan tekanan dan intimidasi justru datang dari kelompok pemukim.

Evakuasi dan Instruksi Militer

Sejumlah keluarga Palestina di Qusra menerima perintah untuk segera meninggalkan rumah mereka setelah pasukan memasuki wilayah tersebut. Seorang warga setempat, Han Abdul Karim Hassan, menyatakan tentara tiba disertai rombongan pemukim dan langsung meminta agar rumah-rumah dikosongkan.

Hassan menggambarkan suasana tegang saat itu dan mengatakan sempat berusaha melindungi anggota keluarganya dari ancaman langsung. Ia bahkan mengaku sempat memperingatkan putrinya agar tidak keluar rumah karena takut keselamatan mereka terancam.

Kondisi dan Taktik Pemukim

Menurut pengakuan warga, pemukim yang mendirikan pos terdepan sejak Januari melakukan serangan dan intimidasi hampir setiap hari. Mereka dilaporkan merobohkan gerbang pertanian dan pintu rumah, memblokir akses jalan, serta memutus aliran listrik dan pasokan air.

Blokade dan gangguan pasokan pangan menjadi keluhan utama warga yang terisolasi selama beberapa minggu terakhir. Kondisi ini menimbulkan kelelahan psikologis dan fisik, terutama pada anak-anak yang mengalami pembatasan ruang gerak dan akses terhadap kebutuhan dasar.

Latar Belakang Konflik di Tepi Barat

Tepi Barat sejak Perang Enam Hari 1967 berada di bawah pendudukan Israel dan menjadi wilayah tempat tinggal sekitar tiga juta warga Palestina. Wilayah itu juga menampung sekitar setengah juta warga Israel yang tinggal di sejumlah permukiman yang dianggap ilegal oleh hukum internasional.

Israel menganggap wilayah Tepi Barat sebagai wilayah sengketa dan menekankan adanya ikatan historis dan religius antara bangsa Yahudi dengan kawasan tersebut. Namun kebijakan perluasan permukiman mendapat kecaman dari PBB dan sejumlah pemerintahan asing.

Dampak Politik dan Respons Internasional

Awal tahun ini pemerintah Israel mengalokasikan dana besar untuk pembangunan permukiman baru di Tepi Barat, langkah yang mendapat kritik keras dari dunia internasional. Kebijakan ekspansi itu muncul di tengah meningkatnya kekerasan antara pemukim dan warga Palestina setelah serangkaian peristiwa besar regional sejak Oktober 2023.

Kekerasan yang meningkat juga memicu kekhawatiran soal akses kemanusiaan dan keselamatan warga sipil di wilayah yang sensitif tersebut. Organisasi kemanusiaan menyoroti kebutuhan mendesak untuk perlindungan anak-anak dan pasokan dasar di daerah-daerah yang terkena dampak.

Situasi di Qusra mencerminkan ketegangan yang terus berlangsung di Tepi Barat, di mana langkah-langkah militer dan aktivitas pemukim sering kali memperburuk kondisi kemanusiaan. Panggilan untuk de-eskalasi dan perlindungan warga sipil tetap menjadi tuntutan utama komunitas internasional dan aktor lokal.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button