Prabowo di EEF Rusia Tegaskan Pembangunan Diukur dari Rakyat, Hubungan Perdagangan Memanas!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pembangunan nasional harus menghasilkan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Fokus Pembangunan untuk Rakyat
Prabowo mengatakan keberhasilan pembangunan harus diukur dari perubahan kehidupan sehari-hari masyarakat biasa. Ia memberi contoh konkret seperti ketersediaan makanan bergizi untuk anak-anak, akses pupuk bagi petani, rumah layak huni, lapangan kerja bagi generasi muda, dan pasokan listrik ke seluruh desa.
Menurut Presiden, filosofi ekonomi yang diadopsi pemerintah berakar pada realisme dan pragmatisme untuk memaksimalkan manfaat publik. Dari perspektif itu, pemerintah menempatkan agenda seperti penyediaan makan bergizi gratis, swasembada pangan, ketahanan energi, dan percepatan hilirisasi industri sebagai prioritas.
Hilirisasi diuraikan Prabowo sebagai upaya menjadikan sumber daya alam sebagai dasar pengembangan industri nasional. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja dalam negeri dan membuka peluang kerja di sektor industri hilir.
Peluang Kerja Sama Indonesia-Rusia
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa perbedaan ekonomi Indonesia dan Rusia justru bisa menjadi saling melengkapi. Rusia unggul di komoditas seperti gandum, pupuk, energi, serta teknologi rekayasa, sedangkan Indonesia menawarkan produk sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, furnitur, dan akses pasar ASEAN.
Prabowo mencatat nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia pada 2025 mendekati 5 miliar dolar AS dan mencatat kenaikan signifikan dari tahun sebelumnya. Ia menilai capaian tersebut merupakan awal yang baik dan menyerukan target yang lebih ambisius untuk menggandakan nilai perdagangan di periode awal peninjauan Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU.
Presiden menjelaskan bahwa penguatan hubungan tidak hanya bergantung pada perjanjian, tetapi juga aktivitas pelaku usaha yang konkret. Untuk itu, delegasi bisnis Indonesia diarahkan menyiapkan pengiriman perdana, mencari pembeli, memastikan jalur logistik, serta menyiapkan mekanisme pembayaran.
Dorongan Agar FTA Indonesia-EAEU Segera Berlaku
Prabowo menyinggung Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025. Ia mengatakan perjanjian itu mencakup penghapusan atau pengurangan bea atas 11.882 pos tarif, mewakili lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan.
Menurut Presiden, Indonesia telah menyelesaikan persetujuan parlemen dan dirinya menandatangani peraturan presiden untuk meratifikasi perjanjian tersebut pada Juli 2026. Ia kemudian mengajak semua negara anggota EAEU menyelesaikan prosedur internal agar perjanjian dapat segera diberlakukan.
Prabowo menegaskan bahwa FTA harus segera diterjemahkan menjadi aktivitas perdagangan nyata sehingga manfaatnya cepat dirasakan masyarakat. Ia mengimbau agar forum seperti EEF berfungsi sebagai marketplace untuk menghubungkan kontrak, rute, dan kesiapan operasional sebelum jadwal pemberlakuan tarif dimulai.
Diplomasi Ekonomi Berorientasi Manfaat
Dari Vladivostok, Presiden menekankan arah diplomasi ekonomi Indonesia yang berorientasi pada manfaat konkret bagi rakyat. Perdagangan harus menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan yang pada akhirnya kembali kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Prabowo juga menyinggung pengalaman ASEAN dalam membangun stabilitas melalui konsultasi dan kerja sama, yang menurutnya bisa dikembangkan antara Eurasia dan Asia Tenggara. Dengan demikian, kerja sama multilateral dan bilateral diharapkan memicu pertumbuhan inklusif yang berdampak langsung pada kehidupan warga.





